Minggu, 05 November 2017

Santri, Toleransi Dalam Berbangsa dan Bernegara (Oleh : Amiruddin Faisal)

Ada fenomena menarik dalam memperingati hari santri 22 oktober kemaren, yaitu kemampuan kaum santri menjadi salah satu garda terdepan dalam mengawal dan menggerakkan langkah maju bangsa ini. Kaum “sarungan” yang umumnya berbasis pesantren tradisional di lingkungan massa ala nahdliyin ini, terutama generasi mudanya, sangat aktif dalam wacana dan gerakan demokratisasi, penegakkan hak asasi manusia, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam beberapa situasi genting, seperti reformasi 1998 dan kisruh menjelang Pilkada DKI yang lalu, justru kaum santri yang muncul sebagai pihak yang aktif meredam gejolak sosial politik yang sudah mengkhawatirkan dan di ambang perpecahan. Demikian juga di tengah maraknya aksi kekerasan, ujaran kebencian, pemaksaan pendapat dan intoleransi, maka kaum santri pula yang paling nyaring dalam menentangnya. Ketika arus demokratisasi dan tuntutan kebebasan bermunculan, maka muslim santri ini yang menjadi elemen anak bangsa terdepan dalam merespon, manyambut dan memperjuangkannya.

Sementara kelompok-kelompok lain masih berkutat dalam pencarian dan perdebatan tentang dasar dan bentuk negara, maka kaum santri yang nasionalis sudah sepakat menjadikan Pancasila dan NKRI sebagai dasar negara dan bentuk negara. Kesepakatan ini tidak bisa diganggu gugat lagi karena mereka yakin Pancasila dan NKRI lah sebagai dasar dan bentuk negara yang dapat menyatukan bangsa yang sangat beragam ini. Di mata kaum santri, mencintai serta mempertahankan NKRI bukan hanya persoalan politik duniawi tetapi juga bagian dari wujud keimanan. Oleh karena itu tidak aneh jika kaum santri sangat anti kolonialisme dan dan sangat loyal pada NKRI.

Demikian pula saat yang lain gagap dan kaget dengan issu-issu kemoderenan, maka kaum santri sudah terbiasa dengan wacana dan gerakan pemberdayaan perempuan dan kaum marjinal, pendidikan seks dan kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, egaliterianisme, penguatan civil society, hak asasi, kearifan lokal, toleransi antar umat beragama, penerimaan kebinekaan dan negara kebangsaan berdasarkan Pancasila.

Santri dan Kitab Kuning
Pertanyaannya mengapa kaum santri yang secara kultural dianggap tidak moderen ini, tradisi sarungan contohnya, mampu menjadi salah satu penentu perjalanan bangsa. Kenapa kaum santri tidak gagap dan kaget dengan ide-ide modernitas, bahkan mereka tampil jadi pegiat demokrasi, toleransi, dan kebangsaan, padahal tadinya mereka biasa terdidik dalam suasana desa yang tradisional.
Lompatan dari tradisionalisme menjadi post tradisionalisme ini – meminjam konsep Rumadi (2008) – memang tidak dapat dilepaskan dari sosok Gus Dur yang dapat mengembalikan NU dari politik praktis menjadi organisasi sosial kemasyarakatan. Gus Dur pula yang telah membina kader-kader muda nahdliyin dengan wacana intelektual progresif dan gerakan kemasyarakatan.
Namun ada sisi lain yang patut diperhitungkan sebagai penentu kemampuan kaum santri dalam ikut menentukan arah gerak pembangunan bangsa ini yaitu tradisi pesantren, dan salah satu tradisi yang membentuk jiwa dan karakter santri di pesantren adalah kajian kitab kuning.

Kitab kuning, atau kitab gundul, adalah satu rukun dari tiga rukun pesantren, setelah kiyai dan pondoknya. Kitab kuning yang biasanya diajarkan di pondok-pondok pesantren kaum nahdliyin ini umumnya ditulis oleh para ulama abad pertengahan. Kitab-kitab ini merupakan literatur keislaman klasik yang menjadi sumber penting dan rujukan otoritatif dalam kajian keislaman para santri di pondok pesantren sampai saat ini. Literatur klasik berbahasa Arab tanpa harakat atau baris ini sangat kaya dengan wawasan kajian keislaman, metodologi pemikiran, pendapat ahli hukum dalam berbagai bidang, pandangan para teolog tentang berbagai keyakinan, ajaran-ajaran kaum sufi yang sarat dengan nilai kesucian, dan sebagainya. Oleh karena itu kajian dan upaya pemahaman ajaran Islam yang mendalam tidak bisa dipisahkan dari literatur-literatur keislaman klasik tersebut.

Dalam prosesnya, ajaran-ajaran kitab kuning yang diajarkan di pesantren atau madrasah inilah yang membentuk jiwa santri menjadi pribadi-pribadi unggul dengan karakter mulia, seperti ikhlas, bersyukur, ulet (sabar), mencari nilai ibadah dan mengejar barokah, hormat pada guru dan senior, hidup sosial dalam kebersamaan, menjaga kebersihan lahiriah dan batiniah (wara’), menanamkan sifat rendah hati (tawadu’) toleran (tasamuh) dan menghargai perbedaan (khilafiyah).

Para ulama besar masa lalu telah mengajarkan dalam berbagai kitab karya mereka akan nilai-nilai luhur dalam kehidupan, baik nilai akademis maupun praktis. Di samping mengemukakan pendapat pribadi (fatwa) ketika membahas suatu masalah hukum, misalnya, sangat sering ulama klasik juga menyebutkan pendapat ulama lain di era sebelumnya atau yang sezaman dengannya. Pengutipan (nukilan) pendapat satu atau beberapa ulama ini selalu diikuti dengan penyebutan judul kitab yang dikutip. Ini menunjukkan sejak dahulu para ulama sangat menjunjung tinggi prinsip keterbukaan, kejujuran ilmiah dan pengakuan hak kekayaan intelektual orang lain serta mencela plagiarisme dan pemalsuan. Inilah nilai-nilai yang mulai tergerus dan menjadi keprihatinan dalam upaya pengembangan perguruan tinggi moderen di Indonesia saat ini.

Toleransi dan demokrasi
Dalam kitab kuning tingkat menengah dan tinggi, khususnya di bidang hukum atau fikih, selalu diuraikan perbedaan pendapat secara tajam dan mendalam antara dua atau beberapa pihak yang berbeda, namun berbagai pendapat yang bertentangan tetap dipaparkan secara adil dan proporsional. Pihak pro dan kontra diberi ruang pembahasan secara seimbang.
Para ulama klasik, imam Nawawi misalnya dalam karyanya Minhajut Talibin (vol. 1 – 4) sering memilih satu pendapat yang dinilainya paling kuat (rajih/arjah) tetapi pendapat yang berseberangan tetap dipaparkan walau mungkin dinilai lebih lemah (marjuh). Dengan paparan yang rinci, terbuka dan adil tersebut maka ulama penulis kitab kuning telah membuka ruang kebebasan pada pembacanya untuk menganalisis dan memilih sendiri mana pendapat yang terbaik, terkuat dan paling maslahat menurutnya. Nilai-nilai demokratis inilah yang juga membentuk jiwa santri saat di pesantren maupun di tengah masyarakat sehingga siap menerima berbagai perubahan.

Tidak berhenti pada adil dan seimbang saja, para ulama penulis kitab kuning juga tetap bersikap obyektif dan rendah hati dalam menyimpulkan atau menilai status hukum suatu persoalan. Walaupun suatu kesimpulan sudah dibuat secara benar atau hukum suatu kasus telah diputuskan secara tepat tetapi ulama fikih selalu mengingatkan bahwa kebenaran yang dibuat itu adalah tetap relatif (nisbi) dan bukan kebenaran absolut (mutlak). Di dalamnya tetap ada kemungkinan benar atau salah sehingga tetap ada ruang dialog untuk menerima atau menolak. Oleh karena itu pula maka kesimpulan yang dibuat tidak diklaim oleh mereka sebagai kebenaran universal yang pasti, melainkan kebenaran sebatas dalam pendapat mereka atau satu kelompok saja.

Adanya statemen al-ashahhu ‘indana (yang lebih benar menurut pendapat kami) atau wallahu a’lam bisshawab (dan Allah yang paling mengetahui) saat menutup suatu pembahasan, jelas membuktikan para ulama berusaha obyektif dan selalu merendah dengan tidak mengklaim pendapat dan pemahamannya sebagai satu-satunya kebenaran. Para ulama yang alim ini seolah ingin memberi pelajaran agar kita tidak egois memonopoli kebenaran sehingga tidak pantas memvonis pendapat-pendapat lainnya yang berbeda sebagai salah apalagi sesat. Kaum ulama intelektual ini ingin menekankan bahwa ajaran yang mereka rumuskan hanyalah hasil ijtihad penafsiran manusia yang kebenarannya relatif sedangkan kebenaran yang hakiki hanya dari Allah swt.

Nilai-nilai kesantunan, terbuka, dan rendah hati inilah yang membentuk jiwa kaum santri sehingga menjadi figur-figur yang toleran dan demokratis. Nilai-nilai inilah yang sangat penting dikembangkan untuk membangun keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini

Tekstual dan Kontekstual (Oleh : Amiruddin Faisal)

Seorang santri sarjana, menyampaikan pandangan bahwa kaum muslimin pecah (terbagi) dalam dua aliran penafsiran : tekstual dan kontekstual. Keduanya sering tak menemukan titik temu, bahkan acap bermusuhan, seraya masing-masing mengklaim kebenarannya sendiri-sendiri.
Sesudah bicara sedikit panjang dan bertanya atau konfirmasi : “bagaimana itu ustaz”?. Aku bilang: Cara pandang atau pendekatan tekstual dan kontekstual selalu ada pada setiap zaman dan di manapun. Pada masa Nabi Muhammad masih ada, itu juga sering terjadi. Salah satunya adalah dalam kasus Shalat ‘Ashar di Bani Quraizhah.

Ceritanya begini :

Usai perang Khandaq atau Ahzab, Nabi mengumpulkan para sahabatnya. Kepada mereka beliau mengatakan :

لا يصلين احدكم العصر الا فى بنى قريظة
“Jangan lah kalian shalat Ashar, kecuali di Bani Quraizhah”.

Mereka sangat paham kata-kata Nabi itu, karena dinyatakan dengan bahasa yang jelas dan tegas. Bahwa shalat Ashar hanya boleh dilakukan di Bani Quraizhah. Maka merekapun segera berangkat ke arah perkampungan itu. Tetapi di tengah perjalanan mereka melihat ke langit. “Mega merah saga menjelang datang. Bila shalat Ashar di laksanakan di tempat yg diperintahkan Nabi tadi, Mega merah saga, pasti merebak, menghiasi langit. Ini berarti waktu shalat Maghrib sudah masuk.
Waktu shalat Ashar telah habis.

Mereka bingung, gaduh dan berdebat : “Kita harus shalat Ashar di mana?. Di Bani Quraizhah atau di perjalanan?”. Ini temanya. Masing-masing lalu merenung : “Jika ikut perintah Nabi berarti harus di Bani Quraizhah. Tetapi akibatnya waktunya sdh habis, lewat. Jika “shalat Ashar dikerjakan di tengah perjalanan, akibatnya tidak menuruti perintah Nabi yg sangat jelas itu.

Lalu apa yang terjadi?. Ada sahabat yg shalat di perjalanan, dan ada yg di kampung Bani Quraizhah, sesuai dengan pendekatan/pemahaman masing-masing.

Manakala kemudian bertemu Nabi, mereka menceritakan kejadian itu, sambil meminta pandangan beliau. Siapa di antara dua kelompok itu yang benar. Nabi tersenyum, tidak marah kepada siapapun. “Kalian telah berpikir keras dan utk itu semua kalian mendapat pahala”.

Oh. Betapa bijaksana dan lembutnya Rasulullah Saw.

وفي شرح النووى لصحيح مسلم : فأخذ بعض الصحابة بهذا المفهوم نظراً إلى المعنى لا إلى اللفظ، فصلوا حين خافوا فوت الوقت، وأخذ آخرون بظاهر اللفظ وحقيقته فأخروها. ولم يعنف النبي صلى الله عليه وسلم واحداً من الفريقين لأنهم مجتهدون. ففيه دلالة لمن يقول بالمفهوم والقياس ومراعاة المعنى ولمن يقول بالظاهر أيضاً، وفيه أنه لا يعنف المجتهد فيما فعله باجتهاده إذا بذل وسعه في الاجتهاد، وقد يستدل به على أن كل مجتهد مصيب. انتهى.

Dakwah Positif atau Negatif? (Oleh : Abad Badruzaman)

Nggak "sah" hukumnya jadi orang Jawa Timur kalo nggak tau Anwar Zahid, penceramah kondang nan kocak. Konon, kalo mau mendatangkan penceramah satu ini harus indent sekurangnya tiga bulan sebelumnya. Kebayang panjangnya antrian pemohon dan padatnya jadwal "manggung" Sang Penceramah.

Dulu saya agak kurang suka dengan model ceramah Anwar Zahid. Kurang suka bukan berarti benci lho ya. Buat apa pula benci pada sesama Muslim, terlebih beliau seorang penceramah agama. Saya dulu kurang suka dengan khas ceramahnya yang terlalu banyak porsi ngebanyolnya. Misalnya beliau ceramah sejam, mungkin separo lebih isinya lawakan belaka. Lawakannya benar-benar lucu. Bukan seperti lawakan pelawak tanggung yang sering membuat kita ketawa bukan karena lucu tapi justru karena gak lucunya.

Tapi belakangan sikap saya berubah. Meski tidak sampe menggilainya, setidaknya saya sekarang manaruh hormat lebih banyak pada beliaunya. Perubahan itu terjadi lantaran belakangan juga kita sering dipertontonkan dengan pengajian nihil kelucuan atau banyolan. Yakni pengajian yang isinya susut-sesat, budnguh-bidngah, kopar-kapir.

Belakangan kita juga kerap disuguhi pengajian sarat kebencian: negara dibenci dan dithogutkan, Pancasila dibenci dan dicibir habis-habisan, burung garuda dibenci dan berhalakan, kebhinekaan alih-alih dirayakan malah dibenci dan diancam dihanguskan.

Ngeliat dan merasakan itu, ceramah Anwar Zahid selain memang lucu dan menyenangkan, kini juga terasa menenangkan. Di majlisnya terlihat kegembiraan, canda tawa, dan yang penting gak pernah Sang Penceramah menjelek-jelekkan orang.

Mungkin ada yang keberatan ceramah Anwar Zahid disebut pengajian. Baiklah! Setidaknya kita lebih beruntung mendapat banyolan berselipkan pesan-pesan keagamaan, tenimbang mendapatkan ceramah dengan nada keras berbumbukan kebencian dan memantik permusuhan.

"Tapi Bah, dalam pengajian Anwar Zahid gak ada tuh kedalaman dan ketertataan logis antar sub-topik yang disampaikan."

"Bahasamu, Le kedhuwuren. Wong namanya pengajian yang gitu itu. Kalo kamu mau kedalaman dan ketuntasan datangnya ya ke pengkajian, bukan pengajian."
"Nah itu Bah, di mana Tole bisa ikut kajian-kajian?"

"Huh...kamu tu yah! Tau Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Tulungagung gak sih?"

Santri ( Oleh : Amiruddin Faisal)

Bagi saya, santri adalah idiom yang saya syukuri sekaligus membebani. Kisah konyol nan lucu, dusel-duselan ketika mau tidur, berebut bantal dalam satu kasur, perang canda dalam satu selimut dan masih banyak lagi kisah yang saya syukuri takdirnya. Meski kadang kesedihan dan kisah nelangsa juga ikut menyertai.

Namun, beban juga tentu ada. Apa beban santri? Ya, mengamalkan. Apakah mudah? Tentu susah, karena butuh kematangan ilmu dan tingkah laku sehingga tidak timpang. Kurikulum pesantren yang tidak hanya menuntut kematangan kognitif namun juga afkesi serta perilaku membuat santri lengkap dari segi penempaannya.

Kitab-kitab setiap hari dikaji, kematangan emosi diuji ketika arus hidup bersama teman sebaya. Perilaku dibentuk oleh aturan dan teladan sang kyai. Tentu, kelengkapan pengajaran ini sengaja dibuat agar santri siap mengabdi dan berkontribusi di masyarakat nantinya.

Karena ukuran keberhasilan santri bukan dari nilai rapot kelas diniyah-nya, namun seberapa bermanfaat ia kelak di masyarakat. Banyak di antara manusia-manusia kekinian yang banyak mengetahui tanpa mengamalkan, sehingga kita temui orang-orang yang berbicara baik namun timpang dengan perilaku yang ia tunjukan secara spontan.

Mengapa santri dituntut untuk tidak sekedar mengetahui tapi juga mengamalkan? Karena santri adalah orang yang belajar kitab suci yang juga bertanggung jawab menjaga kesuciannya. Tugas ini memang berat, tugas mengawal cita-cita kenabian yang ingin membuat sebuah peradaban islami yang menjunjung tinggi nilai toleransi, moderasi dan kemanusiaan. Menyampaikan dakwah dengan cara yang lembut dan indah, bukan dengan dakwah ribut dan marah.

Nasihat tentang keharusan mengamalkan bagi mereka yang telah dianugerahi ilmu telah disampaikan oleh Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah:

“Celakalah bagi orang bodoh yang tak mau belajar tapi seribu kali lebih celaka orang berilmu yang tak mau mengamalkan”.

Belum selesai menulis nasehat Imam Ghozali ini saya teringat nasihat Kyai ku,

“Cobaan orang berilmu adalah bagaimana dia bisa mengamalkan dan cobaan orang bodoh adalah bagaimana ia menghilangkan kemalasannya.”

Santri dididik untuk terus menggerus kemalasan belajarnya sembari terus diguyur dengan nasihat tutur dan laku kyai sebagai teladan. Selain itu, selepas “boyong” dan pulang kampung ia harus mengamalkan. Jadi jangan terjebak dengan hegemoni dan seremoni hari santri tanpa merefleksikan makna santri dan tanggung jawabnya terhadap diri sendiri.

Kaum sarungan hari ini harus berada di garda terdepan untuk menjaga pesan kenabian yang damai dan penuh kasing sayang. Bangsa ini juga membutuhkan santri untuk menjaga keutuhan NKRI dan toleransi antar skat primordial Negara.

Salam 86
Teruslah berkarya Jid

Sabtu, 16 September 2017

PAHAMI NU SECARA UTUH ( Oleh : Siti Fatimah)

PAHAMI NU SECARA UTUH, AGAR TIDAK MENJADI NAHDLIYIN RASA WAHABI DAN FPI
Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan yang sangat unik. Sebagai organisasi yang dimotori oleh kiai-kiai di pesantren, NU ternyata sering kali melahirkan pemikiran yang sangat modern dan sepak terjangnya kerap di luar dugaan. Dalam demo berjilid-jilid terkait tuduhan penistaan agama oleh Ahok misalnya, NU justru menahan diri untuk tidak turut larut dalam gegap gempitanya aksi-aksi yang dilabeli "Bela Islam".
Keunikan yang dimiliki NU dan sepak terjangnya yang sulit diprediksi itu, membuat banyak kalangan gagal memahami NU. Bahkan tidak sedikit orang yang merasa menjadi bagian dari warga NU, tetapi sesungguhnya ia tidak memahami NU. Sehingga muncul istilah "NU rasa FPI", "NU rasa wahabi" dan sebagainya. Dia merasa sebagai orang NU tapi cara pandangnya seperti FPI, seperti wahabi dan sebagainya.
Bukan cuma itu. Sejumlah kiai dan pesantren tertentu yang aqidah dan amaliahnya sama dengan NU, tapi karena tidak memahami NU, mereka terkesan mengambil jarak dengan NU, malah ada pula yang nyinyir jika bicara soal NU.
Kendati demikian, NU tidak pernah nampak gamang. NU seolah tidak merasa butuh untuk dipahami. NU membiarkan orang untuk mau memahami atau tidak memahaminya. NU tetap konsisten dalam kemandirian berpikir dan bertindak. Sebab bagi NU sendiri sudah jelas peran apa yang harus dilakoni.
Sebagaimana diketahui, NU didirikan oleh para tokoh ulama Ahlussunah wal Jamaah, dan dibentengi oleh para kiai dari pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara. Untuk apakah para ulama yang sudah berkiprah di pesantren harus pula membuat organisasi yang kemudian diberi nama Nahdlatul Ulama?
Dari sini sudah jelas, NU bukanlah semacam majelis taklim atau sejenisnya. Sebab jika semata hanya untuk mengurusi persoalan agama dan internal umat Islam, para kiai sudah melakukannya di pesantren-pesantren. Tapi sejak mulanya, ketika masih berupa embrio bernama Komite Hijaz, NU memang sudah dirancang oleh para kiai untuk dipersembahkan kepada Indonesia dengan kebhinekaannya, dengan kemajemukannya, dengan pluralitasnya.
Kalau boleh meminjam sebuah perumpamaan, maka ibarat restoran pesantren adalah dapurnya, sedangkan NU adalah ruang depan tempat masakan disajikan. Pesantren adalah tempat mempelajari Islam, sedangkan NU berperan untuk menampilkan Islam dalam rule of game yang berlaku di Indonesia yang plural.
Peran NU itulah yang sering disalahpahami oleh orang-orang yang hanya mempelajari Islam, tetapi tidak kemudian belajar bagaimana hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia yang bhineka tunggal ika. Sebab mereka hanya mempelajari Islam untuk ruang internal, Islam yang masih berada di 'dapur restoran'. Mereka belum belajar bagaimana 'menyajikan' Islam dalam ruang kebangsaan.
Maka alangkah mubadzir dan membuang-buang energi saja, jika NU harus melayani kenyinyiran mereka yang gagal paham. Lebih baik bersikap seperti yang dikatakan pepatah: "Biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Hiruk Pikuk Membela Tuhan (Oleh : Amiruddin Faisal)

Di tengah hiruk pikuk pertempuran antara agama dengan dalih membela Tuhan !
Aku bertafakur mengadu di pangkuan tuhanku dan bertanya kepada tuhan ku yang Maha Rahman , yang Maha Rahim !
Gusti.....Mengapa pesan-MU dalam tekstual kitab agama di jadikan standar rasional manusia utk menindas yang tak se iman, bukankah perbedaan itu adalah rahmatmu wahai tuhanku ? dan tak jarang kulihat haluannya bermuatan politik.
Aku frustasi Gusti......aku melihat mereka yg membela tuhanya dengan menghalalkan darah sesama manusia. Dari situlah timbul ke gelisahan spritual.Naluri rasio yg ingin bebas dari dentuman senjata pun berbisik.

Dapatkah aku menumakan tuhanku tanpa agama ?
Aku mencari referensi di dalam teks agama yg saat itu aku imani ternya yangta.
Aku menemukan sosok nabi ibrahim as yg berusaha mencari tuhannya dan dia dapat menumukan tuhan tanpa ada bantuan teks kitab suci (agama) .Kemudian saat itu juga aku memutuskan untuk mencari tuhan tanpa agama ! Instrumen apa yg aku kendarai untuk mencarimu wahai Tuhanku ?
Begitu banyak kejadian-kejadian yang terjadi didalam kehidupan masyarakat, kejadian yang bukan saja menuju kepada bangsa yang berbudaya tinggi tetapi menuju kepada yang primitive, dimana akal sehat dan budaya sudah kalah dengan anarkisme dan fundamentalis. Sungguh membuat hati terpaku dan terpana, ketika seakan-akan bahwa bangsa kita kehilangan jatidirinya.
Pertanyaan yang selalu saja muncul dalam sejarah perjalanan agama-agama adalah untuk siapakah sebenarnya agama itu “dibuat”? Apakah Tuhan itu gila hormat, padahal Ia Maha segalanya ?
Apakah Tuhan adalah ibarat seorang raja, yang memiliki “kerajaan agama” sehingga perlu dibela dari berbagai rongrongan terhadap kekuasaan Sang Tuhan itu?
Kalau memang toh demikian, mengapa Tuhan yang Maha segalanya itu masih perlu dibela?
Apakah Nabi-Nya juga butuh penghormatan dari kita bila Tuannya saja tidak, apakah Nabi-Nya meminta kita untuk rela mati untuk ia, menghancurkan dan merusak orang-orang tidak bersalah demi kehormatan Nabi, jikalau Tuan dari Nabi tersebut bahkan tidak minta di bela ?
Sebuah pertanyaan mendasar kita adalah apakah kadar keimanan seorang umat kepada Tuhannya dinilai dari sebuah tindakan anarkis yang intoleransi terhadap masyarakat sekitarnya yang bahkan tidak tahu menahu tentang apa yang sedang ia bela?
Dalam kenyataan sejarah yang selalu terjadi berulang kali, bahwa agama sama sekali memang tidak dapat steril dari berbagai hasrat dan kepentingan manusiawi, sehingga dalam titik-titik tertentu agama kerap kali ditunggangi, demi interest dari kelompok tertentu.
Agama menjadi semacam legitimasi sikap politis dari kepentingan suatu kelompok.
Nama Tuhan, yakni “Sang Penguasa Agama”, dibawa-bawa ke sana kemari, mirip sebuah barang dagangan bahkan cenderung menjadi berdagang kelas asongan. Kalau sudah demikian kejadiannya, apakah yang terjadi sebenarnya bukan merupakan reduksi terhadap nilai luhur dari misi agama itu sendiri?
Ketika saya membaca buku Gus Dur, "Tuhan Tidak Perlu Dibela.” Ada kesan yang cukup kuat akan suatu kekhawatiran terjadinya perselingkuhan agama dan modifikasi nya dengan sebuah kepentingan politik kelompok tertentu–yakni dengan mengatasnamakan agama, atau bahkan Tuhan–sehingga akhirnya melahirkan suasana politik kekerasan atau kekerasan politik dengan dalih agama.
Dengan membaca pemikiran Gus Dur dalam bukunya tersebut,kita tidak usah dengan lantang membela Tuhan yang diserukan pada tubuh, yang kurang lebih kita didorong untuk ber semangat menyadarkan kembali akan hakikat keberagamaan manusia.
Agama pada masa awal kelahirannya selalu merupakan koreksi atas kecelakaan sejarah yang menindas manusia sekaligus martabat kemanusiaannya. Tetapi, perkembangan sejarah justru cenderung mengebiri watak profetis dari agama itu sendiri, sehingga lahirlah praktik-praktik kekerasan dengan suatu pengawalan dari patron (kekuasaan) politis.
Hal ini terjadi karena akibat dari perilaku kaum fundamentalis agama yang berakar pada fanatisme yang sempit dan dangkal.
Pada orang-orang semacam ini, kesadaran pluralisme sama sekali diabaikan.
Sebagai suatu instrumen dalam formasi non-diskursif–dalam istilah Michel Foucault–agama lalu melakukan represi terhadap berbagai nalar yang liar dengan ditopang oleh suatu tafsir tunggal terhadap formasi diskursif dari agama itu sendiri, yakni teks suci. Hal inilah yang kemudian melahirkan suatu pemandangan paradoks dalam sejarah agama-agama.
Agama yang mula-mula hendak menghidupkan martabat kemanusiaan justru menjadi pisau pembunuh kemanusiaan itu sendiri. Tiap kali ada orang yang mati-matian membela agamanya—Tuhannya—dan menyerang agama ataupun sekte lain sebagai sesat, kafir, dlsb-nya. Tentunya saya sangat jengah dengan orang-orang model ini, walau mestinya mereka seiman dengannya. Sungguh saya sangat Heran. Hmm...Kok mesti dengan kekerasan membela Tuhan? Dengan bakar-bakar? Dengan gebuk-gebukan?Ngamuk -ngamukan? Sweaping -sweapingan dengan pekikan yang mendaki ndakik. Padahal, “Tuhan tak perlu dibela”. Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada.
Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.” Bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia “menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.
Memang benar Islam perlu dikembangkan, tapi tidak untuk dihadapkan kepada menyerang keyakinan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka ia pun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.
Gus Dur sangat tidak sepakat dengan politik pengatasnamaan Tuhan dalam laku politik umat Islam yang telah seringkali terjadi dalam sejarah politik Islam Indonesia. Alasannya sederhana saja: sebab Tuhan yang dibawa di situ adalah Tuhan-yang-berada-dalam-wacana, bukan Tuhan-yang-berada-di-luar-sana. Because the Truth is out there. Kebenaran yang menjadi legitimasi dalam kasus ini sudah masuk dalam wilayah kepentingan kelompok, bukan suatu Kebenaran-Transendental.
Dalam suasana yang sedemikian rumit ini, Gus Dur lalu menjunjung tinggi semangat penggalian otentisitas peran agama dalam masyarakat melalui sebuah kreativitas berpikir. Kalau ada kelompok tertentu yang menganggapnya sebagai tindakan liar–atau bahkan murtad–bagi Gus Dur lebih baik diserahkan kepada gerak sejarah.
Klaim pembenaran terhadap diri sendiri mesti dihindari. Cukup diimbangi saja dengan informasi dan ekspresi diri yang “positif konstruktif”, dengan mendudukkan persoalan secara dewasa dan sewajarnya. Ketika saya membaca kasus pemikiran “dekonstruksionis” Ahmad Wahib atau gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid di tahun 1970-an, misalnya, Gus Dur betul-betul menghargai hal itu sebagai sebuah kreativitas manusia menghadapi tantangan zamannya. Seperti yang dilakukan Khalifah Utsman bin Affan ketika menggagas untuk mengumpulkan teks al-Qur’an yang semula berserakan; atau Imam Syafi`ie, ketika menyusun kembali metode pengambilan hukum agama dari al-Qur’an dan Hadits dengan membatalkan sejumlah metode lain yang mendahuluinya. Pun, seperti pernah dialami al-Ghazali sebelum dan sesudah menjadi sufi; al-Ghazali sebenarnya berubah dalam visi, tetapi tetap dalam keagungan ilmu karena mempertahankan hak untuk memeriksa segala teks agama melalui kemerdekaan berpikir, melalui sebuah kreativitas nalar. Di sinilah, penghargaan terhadap nilai kreativitas sebagai bentuk perjuangan (“jihad intelektual”) untuk lebih memanusiakan manusia betul-betul dijunjung tinggi.
Oh....Gusti...Allah Tuhan Yang Maha Esa,
Sifat Kasih-Nya begitu besar dan mengalir terus di kehidupan setiap makhluk-Nya. Sungguh ini merupakan pembelaan Dzat Yang Maha Besar, Kuat, lagi Perkasa. Maka sayapun tertunduk malu, menyesal, dan mohon ampunan-Nya karena saya begitu lancang mengatakan, “Sayalah pembela Allah! Sayalah pembela Agama saya!”.
Kita diajarkan dari kecil bahwa Tuhan Maha Segalanya. Andaikan semua manusia di muka bumi ini tunduk beribadah kepada-Nya, maka hal ini tidak akan menambah kesempurnaan Tuhan yang memang telah sempurna. Begitu juga sebaliknya. Andaikan semua manusia itu membangkang alias tidak patuh kepada-Nya, maka hal itu tidak akan menurunkan derajat kesempurnaan-Nya sedikit pun. Karena Dia adalah Tuhan, Maha dari Segala Maha. Pemiliki Segala Sesuatu. Maka sudah sepantasnya kalau Dia tidak perlu dibela atau tidak memerlukan pembelaan kita sebagai makhluk-Nya. Yang perlu dibela sebenarnya adalah kita, manusia. Tuhan tidak memerlukan hal itu karena Dia Maha Sempurna.
Logikanya gini. Anda adalah seorang manusia (termasuk juga saya, hehehe..).
Jika banyak orang yang memuji anda, patuh pada anda, maka secara otomatis gengsi anda naik. Anda benar-benar dikagumi. Tetapi disaat lain, ketika semua orang mencela anda, menjelekkan anda, tidak patuh lagi kepada anda, maka anda baru saja kehilangan gengsi anda di mata mereka. Begitu bukan?
Dan Tuhan bukanlah manusia. Jika Dia perlu pembelaan, berarti dia bukan tuhan tetapi manusia juga seperti kita. Tuhan sudah Maha Sempurna, dan tidak memerlukan pembelaan makhluk-Nya sedikit pun. Lalu bagaimana jika agama kita, nama Tuhan kita dihina, dicacimaki dan sejenisnya?
Apakah kita hanya diam saja hanya gara-gara kalimat “Tuhan Gak Perlu Dibela”?
Mmm… tentu tidak. Mungkin orang yang melakukan hal ini adalah dikarenakan belum memahami benar hakikat agama yang kita anut. Lebih baik kita beri pemahaman dengan cara yang baik (ma’ruf), bukan dengan cara radikal, seperti kekerasan yang membabi buta.
Agama diciptakan bukan untuk sebuah kekacauan, tetapi justru untuk kebaikan umatnya (rahmatan lil ‘alamin). Namun, jika setelah diberi pengertian, mereka masih saja ‘membandel’, maka serahkan segalanya kepada Sang Pemilik Segala, Tuhan Yang Maha Esa.
Karena hanya Dialah yang membolak-balikkan hati manusia. shollu 'alannabiy...
Lebih lanjut, semua ibadah yang kita lakukan bukanlah bertujuan untuk menaikkan derajat kesempurnaan Tuhan, tetapi sebenarnya untuk kita sendiri. Tuhan, hakikatnya bukan memerlukan kita untuk menyembah-Nya, tetapi manusialah yang perlu untuk menyembah-Nya. Semua amal ibadah kita akhirnya akan kembali pada diri kita sendiri, bukan untuk Tuhan.
Makanya ada surga dan neraka yang sengaja dipersiapkan untuk umat manusia di akhirat kelak. Manifestasi ibadah yang kita lakukan hendaknya merupakan sebuah bentuk rasa syukur kita kepada-Nya. Semacam ungkapan terima kasih kepada sang Maha Pencipta karena telah diberi nikmat yang begitu banyak. Maka tidaklah salah jika ada ungkapan yang mengatakan kalau ibadah bukanlah sebuah kewajiban, tetapi merupakan sebuah kebutuhan yang harus kita prioritaskan, seperti halnya kebutuhan primer manusia.
Maka tak jarang dalam kisah-kisah sufistik, begitu banyak para sufi yang rela meninggalkan “dunia” hanya untuk menikmati kelezatan beribadah kepada-Nya. Sekali lagi, kita hanyalah manusia, makhluk yang lemah di hadapan Tuhan Yang Maha Sempurna. Dia tak perlu dibela karena Dia Maha Kuasa. Pembelaan yang kita lakukan kepada-Nya hanyalah merupakan suatu bentuk manifestasi ibadah yang akan kembali untuk diri kita sendiri.
Maka masih pantaskah kita angkuh dan membanggakan diri, padahal sebenarnya kita bukanlah apa-apa.
Mengutip kata al-Hujwiri:

"Bila engkau menganggap Allah itu ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ‘ia menyulitkan’ kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikatnya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya".

Wallahu A'lam 

--assighor addauly 130917

Selasa, 24 Januari 2017

Misteri Habib Muhammad As-Saqqaf (Oleh : Gus Miek)

Pada kesempatan yang lain, Gus Miek bersama Ibnu Katsir Siroj dan Nototawar pergi ke Pasuruan untuk mencari Habib Muhammad As-Saqqaf. Hari itu hari Minggu, mereka berangkat dari Tulungagung pagi-pagi. Hampir seharian berputar-putar di Pasuruan, belum juga ketemu alamatnya.

Sudah ditemukan Habib Muhamad, tetapi belum ditemukan yang bermarga As-Saqqaf. Hingga diputuskan “Pokoknya yang aneh, khariqul ‘adah dan yang jadzab!” Sayang, tetap tidak ketemu juga.

Akhirnya, satu-satunya jalan adalah bertanya kepada Kiai Hamid Pasuruan. Begitu tiba di rumah Kiai Hamid, beliau sudah menyambut di depan pintu. “Hamim, wal qur’anil hakim,” sapa Kiai Hamid sambil memeluk Gus Miek dan membimbingnya masuk. Di dalam rumah, Kiai Hamid menghadiahi kain sarung Samarinda berwarna hijau kepada Gus Miek. Ini Gus, saya beri sarung, silakan salat dulu,” kata Kyai Hamid.

Gus Miek dan kedua pengikutnya kemudian menuju ke masjid. Ketika saatnya mendirikan salat, Gus Miek hilang dari pandangan. Dicari-cari tetap tidak ketemu. Akhirnya, keduanya salat kecuali Gus Miek, tetapi begitu mengucapkan salam, ternyata Gus Miek sudah duduk bersila di sebelah Katsir. Sehabis salat, keduanya menemui Kiai Hamid.

“Wah, Gus, sampean telat. Tadi malam, tepat malam Jumat, saya khataman Riyadh as-Shalihin dan didatangi Kanjeng Nabi,” kata Kiai Hamid. Gus Miek hanya tersenyum. Kiai Hamid kemudian berdiri mengambil sesuatu di atas sebuah jam besar, lalu mengulurkan tangannya kepada Gus Miek dan kedua pengikutnya. K.H. Hamid menyuruh Gus Miek mengambil satu, demikian juga dengan yang lain, lalu kemudian memintanya kembali.

Gus Miek, yang tadinya mengambil biji koro yang berada di tengah, ketika mengembalikan biji itu ke telapak tangan Kiai Hamid berubah menjadi batu akik, sementara yang lain masih tetap berupa biji koro. Kemudian Kiai Hamid mengembalikannya kepada masing-masing. Kepada Ibnu Katsir, Kiai Hamid berpesan agar biji itu ditanam dan kelak bila sudah berbuah Kiai Hamid akan datang berkunjung ke rumahnya.

Ketiganya lalu berpamitan dan segera mencari rumah Habib Muhamad As-Saqqaf sebagaimana petunjuk Kiai Hamid. Ternyata, rumahnya tidak jauh dari ndalem Kiai Hamid.

Setelah ketiganya tiba di rumah Habib Muhamad As-Saqqaf dengan suara yang keras dan lantang tiba-tiba Habib bertanya, “Dari mana?” “Dari Kediri,” jawab Gus Miek. “Mau Apa?,” tanya Habib.

“Mau minta doa salawat,” jawab Gus Miek. “Apa belum salat? di dalam salat kan banyak salawat dan banyak doa,” jawab Habib. Lalu Habib berdiri menjalankan salat. Akan tetapi, urut-urutan salat yang dijalankannya kacau balau dalam tinjauan fikih.

Usai salat, Habib mengambil ceret berwarna keemasan dengan satu gelas besar dan tiga cangkir kecil. Habib menuangkan kopi jahe khas Arab, lalu memberikan yang paling besar kepada Gus Miek dan disuruh menghabiskannya.

Begitu Gus Miek meminum habis isi gelas besar itu, Habib kembali menuangkan sampai penuh, kembali Gus Miek menghabiskan. Kejadian tersebut terus berulang sehingga kedua pengikut Gus Miek menjadi keheranan, bagaimana mungkin ceret sekecil itu mempunyai isi yang sedemikian banyak, dan betapa kasihan Gus Miek harus meneguk minuman yang tidak enak di lidah dan di perut itu sedemikian banyak, meski demikian seolah-olah Gus Miek tidak merasakan apa-apa.

Setelah puas saling membuktikan “kemampuannya”, Habib As-Saqqaf meminta Gus Miek berdoa dan beliau mengamininya.

Gus Miek dan Kiai Ahmad Shiddiq Jember

Suatu ketika, rombongan keluarga K.H. Ahmad Shiddiq yang tengah khusyuk ziarah di makam Sunan Ampel terganggu oleh kedatangan rombongan Gus Miek yang terdiri dari berbagai latar belakang sosial.

Rombongan yang cukup banyak itu sedikit gaduh sehingga mengusik rombongan yang lain, termasuk rombongan K.H. Ahmad Shiddiq. Melihat rombongan Gus Miek yang campur-aduk dan gaduh itu K.H. Ahmad Shiddiq menyingkir lalu melanjutkan perjalanan ke Pasuruan menemui Kiai Hamid Pasuruan yang masih merupakan kerabatnya.

K.H. Ahmad Shiddiq bercerita kepada Kiai Hamid bahwa dirinya telah bertemu dengan Gus Miek dan rombongannya saat ziarah di makam Sunan Ampel. “Ya… Pak Kiai, begini, Gus Miek itu di atas saya,” jawab Kiai Hamid setelah mendengar pengaduan K.H. Ahmad Shiddiq.

“Ah, masak?” tanya K.H. Ahamd Shiddiq tidak percaya karena Kiai Hamid sudah sangat masyhur kewaliannya di kalangan ulama Jawa. “Saya itu tugasnya ‘sowan’ kepada para kiai. Kalau Gus Miek itu tugasnya kepada bromocorah (bajingan),” jawab Kiai Hamid.

K.H. Ahmad Shiddiq hanya diam saja mendengarkan dan penuh keraguan. “Benar, Pak Kiai. Gus Miek itu tugasnya kepada para bromocorah, para pemabuk, penjudi, perempuan nakal, dan orang-orang awam. Untuk tugas seperti itu saya tidak sanggup,” tegas K.H. Hamid.

Setelah mendengar jawaban Kyai Hamid, K.H. Ahmad Siddiq dengan perasaan yang berkecamuk langsung berangkat ke Ploso menemui K.H. Djazuli (Ayahnya Gus Miek) untuk mengadukan jawaban K.H. Hamid tersebut.

“Begini, Kiai Ahmad, saya dengan Gus Miek itu harus bagaimana?! Dulu, Kiai Watucongol (Mbah Dalhar) juga menceritakan kehebatannya Gus Miek. Saya jadinya hanya bisa diam saja,” jawab K.H. Djazuli.

Diceritakan juga, K.H. Ahmad Shiddiq pernah mengadu kepada Kiai Hamid tentang sepak terjang Gus Miek dan para pengikutnya karena kebetulan K.H. Ahmad Shiddiq juga sering ke Tulungagung, di rumah mertuanya, sehingga ia sering menyaksikan hal yang ganjil.

“Begini Pak Kiai, sampeyan kalau baik dengan saya, berarti juga harus baik dengan ‘sana’ karena ia kakakku. Sampean buka saja kitab ini halaman sekian,” jawab Kiai Hamid. Akhirnya, K.H. Ahmad Siddiq pulang dan membuka kitab yang telah sering dibacanya. K.H. Ahmad Shiddiq pun menjadi mengerti maksud dari kitab itu dan kaitannya dengan laku Gus Miek.

Diceritakan juga Ketika Gus Miek masih berusia 9 tahun, Gus Miek sowan ke rumah Gus Ud (K.H. Mas’ud) Pagerwojo, Sidoarjo. Gus Ud adalah seorang tokoh kharismatik yang diyakini sebagai seorang wali.

Dia sering dikunjungi olah sejumlah ulama untuk dimintai doanya. Di rumah Gus Ud inilah untuk pertama kalinya Gus Miek bertemu K.H. Ahmad Siddiq, yang di kemudian hari menjadi orang kepercayaannya dan sekaligus besannya.

Saat itu, K.H. Ahmad Shiddiq masih berusia 23 tahun, dan tengah menjadi sekretaris pribadi K.H. Wahid Hasyim yang saat itu menjabat sebagai menteri agama. Sebagaimana para ulama yang berkunjung ke ndalem Gus Ud, kedatangan K H. Ahmad Shiddiq ke ndalem Gus Ud juga untuk mengharapkan do’a dan dibacakan Al-Fatihah untuk keselamatan dan kesuksesan hidupnya.

Tetapi, Gus Ud menolak karena merasa ada yang lebih pantas membaca Al-Fatihan. Gus Ud kemudian menunjuk Gus Miek yang saat itu tengah berada di luar rumah. Gus Miek dengan terpaksa membacakan Al-Fatihah setelah diminta oleh Gus Ud.

K.H. Ahmad Shiddiq, sebelum dekat dengan Gus Miek, pernah menemui Gus Ud untuk bicara empat mata menanyakan tentang siapakah Gus Miek itu. “Mbah, saya sowan karena ingin tahu Gus Miek itu siapa, kok banyak orang besar seperti Kiai Hamid menghormatinya?” tanya K.H. Ahmad Siddiq.

“Di sekitar tahun 1950-an, kamu datang ke rumahku meminta do’a. Aku menyuruh seorang bocah untuk mendoakan kamu kan. Itulah Gus Miek. Jadi, siapa saja, termasuk kamu, bisa berkumpul dengan Gus Miek itu seperti mendapatkan Lailatul Qadar,” jawab Gus Ud.

Begitu Gus Ud selesai mengucapkan kata Lailatul Qodar, Gus Miek tiba-tiba turun dari langit-langit kamar lalu duduk di antara keduanya. Sama sekali tidak terlihat bekas atap yang runtuh karena dilewati Gus Miek. Setelah mengucapkan salam, Gus Miek kembali menghilang. Subhanallah.

Terawangan Gus Miek (Oleh : Gus Dur)

Mantan Presiden RI ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid yang sangat akrab dan menaruh hormat kepada Gus Miek pernah mengisahkan kejadian menarik tentangnya.

Di beranda sebuah surau di Tambak, Mojo, Ploso, Kediri, Gus Dur berhasil menemui Gus Miek. Tadinya, sebelum sampai di surau itu, Gus Dur membuntuti mobil yang ditumpangi Gus Miek dari kejauhan.

Setelah membelok ke barat dan kemudian ke utara melalui pararel, akhirnya mobil itu berhenti di depan surau itu. Dan ketika Gus Dur sampai di surau itu, Gus Miek sudah meninggalkan mobilnya, sudah berada di dalam surau.

Dari beranda surau, Gus Miek menunjuk sebidang tanah yang bersebelahan dengan pekarangan surau. “Di situ nanti Kiai Ahmad akan dimakamkan. Demikian juga saya. Dan nantinya sampeyan,” kata Gus Miek kepada Gus Dur.

Dikatakan Gus Miek bahwa tanah itu sengaja dibelinya untuk pemakaman para penghafal Alquran. Gus Dur mengatakan kepadanya bahwa dirinya bukan penghafal Alquran. Gus Miek menjawab,”Bagaimana pun sampeyan harus dikuburkan di situ.”

Belakangan diketahui bahwa Kiai Ahmad yang dimaksudkan oleh Gus Miek dalam obrolan dengan Gus Dur itu adalah K.H. Ahmad Shiddiq, mantan Rais Aam PBNU yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah Jember.

Kabar akan berpulangnya K.H. Ahmad Shiddiq bahkan dikemukakan oleh Gus Miek kepada Gus Dur sebulan sebelum kewafatannya. Waktu itu, Gus Miek memberi isyarat kepada Gus Dur agar NU mempersiapkan calon Rais Aam baru, padahal waktu itu K.H. Ahmad Shiddiq masih menjabat Rais Aam masih sehat.

Belakangan juga diketahui bahwa Gus Dur tidak dimakamkan di tempat yang Gus Miek tunjukkan karena sebelumnya sudah ada amanat dari K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. A. Wahid Hasyim, kakek dan ayahnya Gus Dur, agar Gus Dur beristirahat di Tebuireng bersama mereka berdua tepat seminggu sebelum wafatnya Gus Dur. Ternyata pengakuan Gus Dur bukan sebagai penghafal Alquran mengungguli terawangan Gus Miek.

Gus Miek dan Kiai Hamid Pasuruan

Gus Miek dalam usia 9 tahun sudah pernah ke pasuruan untuk mengunjungi Kiai Hamid. Ini adalah sebuah pertemuan pertama yang sangat mengharukan. Saat itu Gus Miek telah beberapa hari tinggal di pondok Kiai Hamid.

Selama itu pula Gus Miek tidak pernah menjalankan salat. Ia hanya tidur saja sepanjang hari. Oleh Kiai Hamid, Gus Miek kemudian dibangunkan dan dimarahi agar menjalankan salat. Gus miek lalu bangun, tetapi bukan untuk menjalankan salat melainkan membaca perjalanan hidup Kiai Hamid dari awal hingga akhir, termasuk mengenal kelebihan dan kekurangannya.

Kiai Hamid pun terkejut, kemudian memeluk Gus Miek dengan berurai air mata. Sejak saat itu, Kiai Hamid sangat menyayangi Gus Miek dan memerintahkan semua muridnya agar apa pun yang dilakukan Gus Miek dibiarkan saja, bahkan kalau bisa dilayani semua kebutuhannya.

Setelah dewasa, pasca kekacauan akibat pemberontakan PKI mulai reda, Gus Miek dalam perkembangan dakwahnya mulai memasuki wilayah Pasuruan. Pertama kali masuk wilayah tersebut, Gus Miek menuju rumah Kiai Hamid yang dikenal sebagai waliyullah. Saat hendak naik mobil, dari Malang, Gus Miek mengirim bacaan Al-Fatihah kepada Kiai Hamid. Selama dalam perjalanan, Gus Miek hanya diam saja sehingga para pengikutnya pun ikut diam membisu.

Tiba-tiba di pekarangn ndalem Kiai Hamid, Gus Miek tidak langsung bertemu, tatapi hanya mondar-mandir di jalan. Setelah beberapa lama, Gus Miek mengajak salat di masjid, dan Gus Miek menjadi imam. Setelah salam, ada seorang laki-laki yang menyentuh pundak Amar Mujib dan bertanya.

“Maaf, orang itu apakah Kiai Hamim?” Amar mengangguk.
“Gus, nanti tidur di sini, ya? Nanti saya potongkan ayam, dan tidur dengan saya satu rumah,” kata lelaki itu yang ternyata adalah Kiai Hamid.

Ternyata Kiai Hamid tidak mengenali Gus Miek yang duduk-duduk dan mondar-mandir di pekarangan karena penampilan Gus Miek sudah sangat jauh berbeda dengan saat ketika ia sering mengunjunginya belasan tahun silam. Saat itu, Gus Miek masih muda dengan pakaian lusuh dan rambut gondrong. Pertemuan pertama Gus Miek dengan Kiai Hamid saat Gus Miek berusia sekitar 9 tahun.

Dikisahkan juga suatu hari Gus Miek bertamu ke rumah Kiai Hamid. Keduanya asyik berbincang tanpa memedulikan tamu-tamu yang lain. Puluhan tamu menunggu untuk sowan ke Kiai Hamid, tetapi tidak dipedulikan sampai akhirnya datang Kiai Dhofir.

“Mid, Hamid!” Kiai Dhofir memanggil. Gus Miek terlihat sangat marah, mukanya merah padam, matanya tajam menatap Kiai Dhofir. Gus Miek dengan tergesa-gesa pamit pulang. Dalam perjalanan, Gus Miek dengan nada emosi berkata, “Masya Allah, siapa tamu tadi, kok tidak punya tata karma!” “Mungkin karena Kiai Hamid keponakannya,” Amar menanggapi emosi Gus Miek.

“Walaupun keponakannya, saya tidak terima. Kiai Hamid itu kiai dan juga termasuk wali,” jawab Gus Miek masih dalam keadaan emosi. Setelah emosinya mereda, Gus Miek berkata, “Mar, kata Kiai Hamid, wali di sini yang paling tinggi adalah Husein, orangnya hitam. Tetapi, wali Husein berkata bahwa wali yang paling tinggi di sini adalah Kiai Hamid.”

Gus Miek dan Tiga Preman Tanjung Priok

Ustaz Suhaimi bercerita pada suatu hari di bilangan Tanjung Priok pada tahun 1996 ada tiga preman yang kerjaannya memalak setiap truk kontainer yang masuk pelabuhan. hasil palakannya digunakan untuk mabuk-mabukkan, main perempuan atau berjudi.

Hingga pada suatu hari datanglah seorang pria mengenalkan dirinya bernama Gus Miek. Lantas pria itu ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal, mulai dari masalah politik, ekonomi hingga menyentuh masalah agama.

Begitu lembut dan inteleknya pria itu berbicara, hingga akhirnya ketiga preman itu mulai tertarik dengannya. Apalagi pria itu orangnya asyik diajak gaul ala preman dan suka mentraktir makan, minum dan rokok.

Hingga akhirnya masuk waktu salat Zuhur, lantas Gus Miek mengajak ketiga preman itu untuk ikut salat. Pada mulanya mereka menolak, tapi Gus Miek merayunya dengan iming-iming barangsiapa yang mau salat dengannya, maka akan dikasih uang Rp. 50.000 (Uang segini besar pada waktu itu). Maka walaupun terpaksa akhirnya ketiga preman ini mau ikut salat di belakang Gus Miek, tentu saja niatnya demi mendapat uang.

Begitulah setiap waktu salat, pasti mereka salat berjamaah bersama teman barunya, Gus Miek. Kejadian ini berlangsung hingga 3 bulan lamanya. Hingga pada akhirnya ada kesadaran tersendiri bagi tiga preman itu untuk salat, apalagi Gus Miek juga mengajarkan masalah agama yang selama ini belum pernah mereka dengar.

Dan memasuki bulan keempat, Gus Miek sudah tidak menemui tiga preman tersebut. Tentu saja mereka kalang kabut, karena sudah terbiasa salat berjamaah bersama Gus Miek. Mulai ada kerinduan dari ketiga preman itu akan sosok pria misterius yang selama ini selalu mengajak mereka kepada kebaikan dan mengajarkan mereka tentang masalah agama.

Rupanya tingkah mereka menarik perhatian Ustaz Suhaimi yang ketika itu baru pulang dari acara Maulid di Masjid Luar Batang. Lalu sang ustaz menghampiri mereka di teras masjid dan menanyakan banyak hal. Kemudian 3 preman itu bercerita tentang perjumpaan mereka dengan seorang pria misterius yang membuat mereka akhirnya mulai mendalami masalah agama.

Betapa kagetnya Ustaz Suhaimi ketika mendengar nama Gus Miek disebut oleh mereka. Lantas sang ustaz yang saat itu membawa buku saku tentang Dzikrul Ghofilin memperlihatkan foto seorang ulama kepada ketiga preman itu, “Apakah pria misterius itu seperti orang ini?”

Dengan nada heran, preman itu menjawab, “Iya benar. Apakah Ustaz kenal dengan dia?” Ustaz Suhaimi menjawab, “Bukan kenal lagi. Ini guru saya. Beliau seorang ulama besar yang merupakan waliyullah. Beliau sudah wafat 3 tahun yang lalu.”

Seperti tersambar petir, terkejut bukan kepalang tiga preman ini mendengar penjelasan Ustaz Suhaimi. Jadi selama ini mereka mendapat pencerahan dari seorang ulama besar, waliyullaah terkenal, yang sudah lama wafat.

Menangislah mereka sambil menciumi tangan Ustaz Suhaimi sambil menyatakan keinginan mereka untuk bertobat dan meminta beliau mau mengajari mereka tentang masalah agama. Akhirya sang ustaz pun menyanggupinya dengan berurai air mata.

Sabtu, 01 Oktober 2016

MENCEGAT LOMPATAN-LOMPATAN GUS DUR : TINJAUAN SUFISME AL-HIKAM. (Oleh : Sila Syahputra.S)

MENCEGAT LOMPATAN-LOMPATAN GUS DUR : TINJAUAN SUFISME AL-HIKAM.

Banyak pihak dan banyak cara untuk memahami pola pikir dan spirit KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak ia terlibat dalam Jamiyah Nahdhatul Ulama (NU). Satu-dua pendekatan saja, terutama pendekatan sosiologis empirik, akan “terperangah” oleh hasil final dari realitas gerakan. Gus Dur dalam memimpin NU, atau Gus Dur sebagai pribadi. Kalau toh menggunakan pendekatan komprehensif, maka Gus Dur adalah totalitas ekspresi dari keseluruhan akumulasi NU itu sendiri, baik dari khazanah intelektual, kultural, politik dan harakah organisatoriknya.

Tidak banyak yang meninjau Gus Dur dari dimensi esoterik, sufistik, bahkan perenialistik. Padahal untuk memandang Gus Dur, ucapan tindakan dan manuvernya, harus pula melihat sisi fundamental yang menjadi pijakan spiritualistis Gus Dur, dan tentunya sangat mempengaruhi strategi-panjang pendek, universal-parsial, sakral-sekuler, ideal-real, nasionalisme-internasionalisme, dan sebagainya, bagi kepentingan NU, kebangsaan dan kemanusiaan dunia.

Dengan mengenal lebih dekat “hati” Gus Dur, akan mudah memahami lompatan-lompatan kultural ke depan, sehingga pasca Gus Dur kelak bisa lebih bisa melakukan antisipasi secara visional, tanpa harus membubarkan tatanan yang bertahun-tahun telah distrukturkan dalam piramida besar NU, sehingga para penerus Gus Dur tidak canggung bahkan menemukan spirit optimisme yang “suci” pasca Gus Dur.

a. Hati Gusdur
Hati Gus Dur adalah “Rumah Ilahi” atau “‘Arasy Allah”. Rumah yang dipenuhi dengan jutaan dzikir dan gemuruh musik surgawi, setiap detik, setiap saat, setiap berdiri, bergerak (qiyaman) dan duduk diam (qu’udan) serta ketika tidur dalam kefanaan (‘ala junubihim). Rumah Ilahi selalu terjaga (mahfudz) dari segala godaan duniawi, prestisius, dan segala hal selain Allah, peringatan-peringatan Ilahi dan teguran-teguranNya, senantiasa “turun” ketika Gus Dur akan berbuat kesalahan, ketika Gus Dur “frustasi”, ketika Gus Dur terbuai oleh “iming-iming”, atau ketika Gus Dur terlalu bermimpi.
Itulah untungnya jadi Gus Dur, tapi juga demikianlah resiko besar yang harus diterima, manakala Gus Dur menyimpang dan dimensinya, melesat dari Rumah Ilahi, Berat sekali beban Gus Dur menjaga Rumah Ilahi, lebih berat ketimbang menjaga “rumah besar” NU, yang konon sebagai “rumah tua yang berwibawa” ini. Sukses Gus Dur menjaga Rumah Ilahi dalam kalbunya, adalah sukses besar NU. Karena itu di mata Gus Dur sendiri, menurut hati nuraninya -memimpin NU atau tidak, nilainya sebanding. Gus Dur bukanlah tipikal seorang yang berambisi menaiki tahapan derajat duniawi maupun berambisi mendapatkan megamat ruhani-ukhrawi, yang dalam dunia tasawuf disebut dengan al-Murid. Tetapi Gus Dur adalah sosok yang diburu, dikejar dan dikehendaki oleh tahapan-tahapan tersebut, dicari oleh massa dan organisasi, bahkan secara radikal dalam sufisme ia adalah tokoh yang “dicari Tuhan” (al-Murad).

Gus Dur “dicari” Tuhan, dan ditemukan di lorong-lorong kebudayaan, di ketiak orang-orang miskin, dalam aliran derasnya keringat para buruh. Allah menemukan Gus Dur dalam alunan musik klasik, di gedung-gedung bioskop dan di tengah-tengah supporter sepak bola. Gus Dur diburu Tuhan, ketika berada di sela-sela kolom surat kabar dan majalah, bahkan diburu sampai ke Israel dan Bosnia. Dan Gus Dur “ditangkap” Allah, ketika pandangan matanya sudah setengah buta, ketika merunduk tersenguk-senguk di makam para Auliya. Sayang, Allah memeluk Gus Dur ketika Gus Dur sudah “gila”, dan memimpin arisan orang-orang yang “gila” kepadanya.

Benar kata Khalil Gibran, “Di tengah masyarakat yang terdiri dari orang-orang gila, orang yang paling waras disebut sebagai orang yang paling gila. Dan di tengah masyarakat yang terdiri orang-orang yang waras, orang yang paling gila disebut orang waras.”

Gus Dur dikatakan “gila” oleh masyarakat gila yang merasa waras. Dan ia disebut sebagai paling waras di tengah-tengah orang-orang “gila” yang tidak ingin waras. Kebudayaan “gila” dewasa ini harus diatur oleh orang paling waras, walaupun orang paling waras itu harus mendapatkan sebutan sebagai orang paling gila.

“Kegilaan” Gus Dur adalah tipikal paling relevan untuk memimpin masyarakat yang tergila-gila oleh kegilaan. Sebab Gus Dur adalah terali, tembok, pilar, atap, dan ornamen-ornamen bagi rumah Ilahi, yang terus mengalami “keterasingan” di tengah-tengah rumah besarnya sendiri, di tengah-tengah bangsanya sendiri, juga di sudut-sudut lapuk warga Nahdliyinnya.
Dia Sendiri Adalah Al-Hikam
NU sebenarnya adalah organisasi paling banyak jumlah kaum ‘arifin-nya dibanding organisasi keagamaan yang lainnya. Karena itu NU memiliki derajat sebagai satu-satunya organisasi “Yang Diridhai”, atau mungkin yang lain sekedar diakui, disamakan, atau “terdaftar” saja dalam catatan lembaran langit.

Kehadiran Gus Dur untuk mereformasi secara puritan melalui “Khittah 1926” adalah bentuk perenialisme NU dalam matra zaman yang lebih luas. Bukannya upaya memutar gerak jarum jam sejarah ke masa Ialu. Tetapi, mundur untuk melompat ke depan lebih jauh. Lompatan-lompatan dalam visi Gus Dur ketika menerjemahkan Khittah 1926, merupakan lompatan “spiritual NU” yang kemudian berakses kepada lompatan moral, politik, kebudayaan dan tradisi intelektual serta sosial-ekonomi. Lompatan-lompatan ini bisa dilihat dari dimensi paling sederhana, namun merupakan dimensi paling dalam. Yakni dimensi sufisme yang menjadi “akhlak” ulama salaf dan ulama-ulama generasi pendiri NU.

Hal yang tidak bisa dipungkiri, adalah kesatuan para ulama pendiri NU dan Gus Dur sendiri, dengan wacana-wacana Corpus Tassawuf yang ditulis oleh Taajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Atha’illah as-Sakandari, yakni kitab al-Hikam. Hampir seluruh pesantren salaf di Indonesia, mengkaji kitab tersebut, dan sekaligus menjadi pijakan moralitasnya.

Kitab al-Hikam, merupakan magnum corpus kaum sufi, yang mengandung misteri-misteri spiritual dan sekaligus bisa digunakan untuk memprediksi gelombang pasang surut spriritual keagamaan semacam yang terjadi dalam tubuh NU, Gus Dur sendiri yang hafal di luar kepala setiap wacana (matan) kitab al-Hikam ini, tentu memahami secara lebih massif dan universal bagi kepentingan historis NU. Dalam bahasa yang paling “tradisional” kembali ke Khittah 1926, berarti kembali ke dalam dimensi “al-Hikam” tersebut. Karena itu sebelum memimpin NU, Gus Dur telah menyatu dengan “al-Hikam”, yang kelak ketika memimpin NU, al-Hikam menjadi instrumen “penggugat” dalam intern NU. Sayangnya, ribuan pesantren di Indonesia dewasa ini, telah merasa asing dengan kitab ini. Sebab, kitab ini merupakan kitab instrospektif, kitab yang bisa menusuk diri sendiri, kitab yang “ditakuti” oleh para kiai. Akhirnya, dari 6.000 pesantren yang ada, hanya beberapa gelintir saja yang masih mengkaji kitab ini. Fakta ini pula yang membuat gerakan moral ulama yang dilakukan Gus Dur banyak terhambat.

b. Matan Al-Hikam, Khittah 1926 dan Pasca Gus Dur
Coba kita renungkan sukses besar para pendiri NU ketika mendirikan NU tahun 1926. Kesuksesan ini erat dengan matan pertama dari al-Hikam: “Diantara tanda bersiteguh terhadap amal, adalah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika terjadi tindakan dosa.”
Para ulama pendiri NU dan Gus Dur tidak pernah mengajak warganya untuk bersikap menggantungkan diri pada upaya dan amalnya, dengan asumsi bahwa amal itu bisa menyelamatkannya. Kerja organisasi, perjuangan, aktivitas Nadliyin, harus terjauhkan dari sikap I’timad terhadap amal. Sebab, sikap I’timad seperti itu, hanya melahirkan ketamakan dalam organisasi dan ambisi historis. I’timad terhadap amal, ikhtiar, dan upaya-upaya manusiawi hanyalah bentuk “penghalang” antara hamba dengan Sang Khalik. Amal hanyalah makhluk, bukan Khalik. Membanggakan makhluk adalah bentuk immoral yang jauh dari harapan spiritual yang menghantar sukses besar.

Para mujahid di kalangan ulama NU yang turut menghantar kemerdekaan bangsa ini, sama sekali menepiskan ketergantungannya terhadap amal dan sejarah. Satu-satunya tempat I’timad hanyalah Allah. Karena itu Khittah 1926 dulu jauh dari rekayasa-rekayasa ambisi politik, kalau toh pun ada akan tersingkir oleh sejarah. Ibnu Atha’ilah mengaitkan kebergantungan terhadap amal tersebut dengan tindakan dosa. Dalam konteks Khittah 1926, kembali ke Khittah 1926, tidak harus disertai “rasa bersalah” yang terus menerus, sehingga mengurangi optimisme masa depan (raja’) itu sendiri. Sebab siapapun yang merasa “miris” dan pesimis terhadap rahmat Allah ketika ia berbuat dosa, berarti ia belum bergantung kepada Allah, masih bergantung kepada amalnya. Begitu juga, warga NU yang masih merasa bersalah atas “dosa sejarah” yang mengakibatkan dirinya ekslusif, tersingkir, pesimis, dan bahkan cenderung “membangkang” berarti masih I’timad terhadap upaya amal, bukan I’timad kepada Allah. Sikap demikian inilah yang ingin “diberantas” Gus Dur.
Fakta demikian sesuai dengan wacana al-Hikam berikutnya: “Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih memposisikan dirimu pada dimensi sebab akibat (duniawi) merupakan bagian dari nafsu tersembunyi. Dan keinginanmu kembali pada sebab akibat (duniawi), sementara Allah sudah memposisikan dirimu dalam dimensi tajrid, merupakan penurunan (degradasi) dari cita-cita yang luhur.”

Tajrid merupakan bentuk eskapisme kepada Allah tanpa menghiraukan dimensi selain Allah. Dalam konteks ke-Gus Dur-an, adalah “tidak mau tahu” urusan organisasi, urusan kemasyarakatan, urusan kemiskinan dan kebudayaan, bahkan urusan demokratisasi. Sikap demikian merupakan bentuk eskapisme nafsu yang tersembunyi, bukan eskapisme kesucian Ilahi. Padahal mayoritas warga NU belum sampai ke tahap tajrid ini. Lebih ekstrim lagi banyak tokoh-tokoh NU menggunakan baju tajrid untuk kepentingan pribadinya, kepentingan nama dan perutnya, ya kepentingan nafsunya. Lebih jauh lagi untuk kepentingan politik kelompok tertentu.
Sebaliknya, mereka yang sudah sampai pada maqam tajrid dalam konteks ke-NU-an- tiba-tiba masih berambisi terjun ke dunia kausalitas NU. Tentu, tindakan demikian merupakan degradasi moral bagi ketokohannya. Para tokoh yang seharusnya “pensiun” dari NU, untuk lebih mendekatkan diri dalam “wilayah muraqabah dan taqarrub Ilahi”, ternyata banyak yang “cawe-cawe” ke dunia empirik, yang membuat keruwetan di tubuh NU. Padahal Allah sudah memberikan “kursi empuk spiritual”, malah memilih kursi empuk duniawi. Inilah agenda Gus Dur sampai saat ini. Bahwa transformasi dari tahap kausalitas menuju tahap tajrid dalam NU, adalah tahap perjuangan dari unsur kepentingan menuju unsur “kepentingan Ilahi”, dari hal-hal yang bersifat empirik ke esoterik. Sukses besar NU manakala NU mampu melakukan transformasi menuju “tajrid” peradaban yang luhur.
Matan al-Hikam selanjutnya adalah: “Tercapainya cita-cita tidak bisa mengubah dinding takdir.”
Gagalkah Gus Dur? Gagal dan tidak, harus ditinjau dari prespektif yang luas. Ditinjau dari segi al-Hikam, keberhasilan Gus Dur dengan Khittah 1926, bukan karena Gus Dur atau para pendukungnya. Hakikat keberhasilan Gus Dur yang ada, sama sekali tidak takdir Ilahi terhadap NU.
Ikhtiar, upaya, semangat, jihad, adalah “tanda-tanda” sukses NU, bukannya faktor penentunya. Dalam dimensi tasawuf al-Hikam, apabila NU ditakdirkan berhasil dan sukses, akan banyak Gus Dur lain yang memiliki visi dan ruh yang sama. Bukan sebaliknya. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Banyak tokoh-tokoh NU yang merasa mampu mengubah takdir Allah, dan ketika berhasil menganggap sebagai upayanya sendiri tanpa campur tangan Ilahi. Kecuali kalau gagal, baru mengatakan, “Demikianlah takdir Allah…!”

Karena itulah, al-Hikam menyarankan pada matan selanjutnya: “Abaikanlah dirimu untuk ikut campur (urusan Allah), sebab apa yang sudah diurus oleh selain dirimu berkaitan dengan dirimu, Anda jangan ikut campur di dalamnya untuk kepentinganmu.”
Selanjutnya Gus Dur pun sering menghimbau kepada para kiai dan ulama, khususnya kalangan NU, agar tidak ikut mencampuri urusan yang bukan bidangnya. Misalnya urusan pencalonan presiden maupun gubernur, ataupun bupati. Urusan tersebut ada yang berwenang menangani. Ikut campur di luar bidangnya adalah bentuk salah kaprah yang fatal, dan menjadi kerumitan dinamika NU.
Dan matan al-Hikam berikutnya berbunyi: “Ijtihad Anda pada hal-hal yang sudah dijamin untuk diri Anda, dan sikap teledor Anda terhadap kewajiban yang harus Anda penuhi, merupakan bukti atas kekaburan mata hati Anda.”

Bayangkan, berapa ribuan tokoh-tokoh NU yang mata hatinya kabur, karena etika dan sikap moralnya yang teledor, hanya karena mementingkan tuntutannya dibandingkan mementingkan tugasnya?
Gus Dur tidak pernah putus asa. Walaupun ia dituntut terus menerus, khususnya pada setiap even dan momen tertentu. Gus Dur hariya bisa kembali sebagaimana wacana al-Hikam dari matan ke matan berikutnya.
Dan sungguh, matan-matan al-Hikam, tertib dan strukturnya, mulai awal hingga akhir, yang memenuhi lembaran-lembaran kitab, merupakan kesimpulan dari perjalanan spriritual penempuh jalan sufi, sekaligus juga peristiwa-peristiwa dalam konteks NU yang bakal maujud dalam sejarah NU dan umat Islam. Karena itu membaca NU pasca Gus Dur akan sangat mudah dengan membaca al-Hikam dengan penafsiran dinamika NU, karena di sana penuh dengan solusi-solusi langsung dan aktual.

Dalam prediksi matan al-Hikam, NU pasca Gus Dur adalah pertama-tama NU akan melewati perebutan-perebutan ambisi yang saling menyodorkan alternatif. Sedangkan alternatif yang disodorkan oleh Khittah 1926, sebagai visi Gus Dur, dianggap belum tuntas. Padahal Gus Dur, sebagaimana al-Hikam, menyandarkan titik akhir sejarah NU hanya kepada “alternative yang terbaik menurut Allah”, alternatif konsepsionalisasi yang direkayasa atau dipaksakan menurut penilaian tarbaik manusia. Kapan dan bagaimana allternatif Ilahi NU teraktualisasi dalam sejarah. Menurut Gus Dur dan al-Hikam, hanya Allah saja yang tahu kapan aktualisasi historis idealisme itu maujud secara proporsional.

Paling tidak, Gus Dur walaupun belum maksimal telah melampaui tiga matan al-Hikam di atas, dalam konstelasi ke-NU-annya. Tugas pelanjut Gus Dur adalah menerjemahkan matan-matan berikutnya dan konteks spirit NU masa depan, melalui solusi yang ditawarkan oleh al-Hikam. Dalam hal ini, sangat dibutuhkan suatu Syarah al-Hikam yang konstektual dengan NU modern. Suatu tantangan bagi kaum spiritulis NU yang memiliki “kearifan” dalam sejarah.
Sebagaimana para pembaharu atau mujtahid dalam dunia Islam, pasca mujtahid adalah para komentator, interpretator, dan kreator yang lebih spesialis dan detil. Maka, pasca Gus Dur, adalah Gus Dur-Gus Dur “kecil” yang “cantik” dan “indah” yang mampu mengepakkan sayap-sayapnya menjadi tarian yang rampak. Tarian “Gusduriyah”.

7 Tokoh Pemikir Hebat dari Jombang. (Oleh :Sila Syahputra.S)

7 Tokoh Pemikir Hebat dari Jombang.

Apa saja pemikiran para tokoh tersebut? Yuk selengkapnya ...
Sebuah kota berjarak sekitar 80 km dari pusat Provinsi Jawa Timur memiliki permata indah yang tidak dapat dibeli oleh apapun. Melalui jasa-jasanya mampu melahirkan pemikiran dan gagasan berlian bagi kemajuan bangsa Indonesia sejak zaman pra kemerdekaan hingga saat ini. Sumbangsih dari jasa-jasanya inilah yang harus diteladani bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kota dengan julukan sebagai kota santri ini tidak dapat dihilangkan pesonanya meskipun dalam buku-buku sejarah jarang ada yang mengekspos dan mencantumkan nama-nama beliau. Bagaimanapun juga, pahlawan rakyat tetaplah pahlawan bagi rakyat meskipun tidak digembor-gemborkan tetap saja pahlawan bagi para pecintanya. Kota tersebut adalah kota Jombang, pusatnya kota ilmu pengetahuan khazanah islam khususnya pesantren. Berikut adalah tujuh tokoh kharismatik berasal dari kota Jombang.

1. KH. M. Hasyim Asy’ari
Siapa yang tidak kenal dengan seorang ulama masyhur di Indonesia bahkan di wilayah Hijaz, beliau Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Mungkin banyak masyarakat kurang mengetahui bahwa orang pertama yang diberi mandat sebagai presiden pertama Indonesia oleh Pemerintah Jepang adalah beliau. Karena saking sayangnya beliau kepada para santri, beliau menolak tawaran itu dan lebih menyarankan Ir. Soekarno untuk menjadi presiden pertama. Jasa beliau sangatlah tak terhingga besarnya mulai dari pembentukan Ormas NU hingga fatwanya mengenai resolusi jihad. Tebuireng dan NU merupakan sedikit contoh dari sekian banyak jasanya hingga saat ini dapat dirasakan manfaat jasa dan pemikirannya oleh masyarakat luas. Banyak karangan-karangan beliau digunakan sebagai bahan penelitian diberbagai kampus di Indonesia. Karena jasanya dalam ikut serta mendirikan Negara Indonesia ini diangugerahi sebagai pahlawan nasional.

2. KH. A. Wahab Chasbullah
Gelora kesemangatan Mbah Wahab (sapaan KH. A. Wahab Chasbullah) dalam mewujudkan kemakmuran bangsa Indonesia pada zaman kemerdekaan perlu dicontoh. Semangat tersebut diaplikasikan dalam aktif berorganisasi. Perjuangan beliau dalam mendirikan berbagai organisasi seperti Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan, Syubbanul Wathan hingga Nahdlatul Ulama mampu membuahkan hasil. Berkat keaktifan ini, beliau merubah keadaan kaum tradisionalis menjadi masyarakat berilmu terbukti dengan munculnya madrasah diberbagai tempat. Beliau Kyai besar yang selalu dikagumi oleh masyarakat karena kesederhanaan dan kearifan dalam berbuat sekaligus karya yang hingga saat ini masih dapat dinikmati adalah berdirinya Ponpes Tambak Beras yang telah mencetak ribuan alumni dari pesantren ini.

3. KH. Bisri Syansuri
Tegas dan berkomitmen merupakan ciri khas dari kyai pendiri Ponpes Denanyar Jombang dalam menyikapi berbagai ragam permasalahan mengenai fiqh. Beliau bersama KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah mampu mendirikan salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama. Pemikiran mengenai kebijakan dalam berfiqh menjadikan kiblat bagi para kyai terkhusus bagi kalangan Nahdliyin. Jasanya bagi bangsa Indonesia sangatlah besar tercurah pada karya-karya beliau yang banyak mengomentari dan memperjelas masalah fiqh.

4. KH. Romli Tamim
Wejangan atau nasehat dari beliau sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat luas. Seorang kyai dan juga mursyid Thoriqoh Qodariyah wa Naqsyabandiyah yang memiliki keunggulan dalam memberi doktrin-doktrin sufistik untuk menjadikan manusia sebagai insan kamil (manusia sempurna). Berkat jasa dan keikhlasan beliau dalam mengayomi masyarakat menjadikannya salah satu dari tiga guru sufi di Pulau Jawa bersama Abuya Dimyati Banten dan Syaikh Muslih Mranggen. Selain itu, beliau juga pendiri dari salah satu pesantren besar di Jombang, yaitu Darul Ulum (Rejoso, Peterongan)
5. KH. A. Wahid Hasyim
Kyai muda dengan segudang presatasi mampu diraih oleh putra pertama dari KH. Hasyim Asy’ari. Pada umur sekitar 32 tahun, beliau mampu menjadi salah satu perumus kemerdekaan Indonesia dengan masuknya sebagai anggota Sembilan dan juga PPKI. Ilmu dan jasa yang dimilikinya sangatlah banyak untuk ukuran pemuda seumuran beliau. Pemikiran-pemikiran modern salah satunya dengan memasukan pelajaran umum dalam pesantren Tebuireng. Meskipun pada awalnya banyak kyai menentang pendapat itu, pada akhirnya memang benar bahwa pelajaran umum juga diperlukan bagi kalangan santri yang belajar di pesantren.

6. KH. Abdurrahman Wahid
Presiden ke-4 yang pernah dimiliki bangsa Indonesia adalah KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur. Seorang putra bangsa terbaik Indonesia terlahir dari kalangan pesantren yang mampu menyumbangkan pemikiran-pemikiran hebat. Salah satu pemikiran hebatnya adalah mengenai Pluralisme. Beliau dianugerahi pemikiran yang luar biasa cerdasnya sehingga banyak orang dengan pemikiran dibawahnya tidak memahami apa yang beliau maksud. Gus Dur adalah kyai dengan selera humor tinggi. Banyak orang tertawa ketika beliau berpidato ataupun sedang berdiskusi. Masyarakat luas sangat merindukan pemimpin seperti baliau karena sikap sederhana dan pembelaan beliau terhadap rakyat kecil tidak tanggung-tanggung.

7. Emha Ainun Najib (Cak Nun)
Seorang budayawan dengan gaya dakwah memadukan antara berbagai macam kesenian mulai dari kesenian islami, modern hingga kesenian jawa dikolaborasikan dengan harmonisasi yang indah. Melalui media dakwah seperti itu mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kesenian sekaligus kebudayaan jawa yang beliau yakini akan menjadi pusat peradaban dunia. Pemikiran beliau mengenai pentingnya mencintai budaya bangsa tanpa harus membanding-bandingkan dengan negara lain mampu menambah kepercayaan diri masyarakat untuk selalu bangga akan kualitas bangsa Indonesia.

Demikianlah mengenai beberapa tokoh besar yang lahir di Jombang dengan menunjukkan kiprahnya mengabdi kepada masyarakat. Perlu dicontoh bagi para pemimpin-pemimpin saat ini bahwa pengabdian masyarakat secara tulus tanpa mengharapkan pundi-pundi uang menunjukan keikhlasan seseorang tersebut dalam mengabdi. Tidak akan berbuah apa-apa jika mengabdikan diri kepada masyarakat tanpa menghadirkan rasa tulus ikhlas disetiap langkahnya.

Selasa, 27 September 2016

MADZHAB ITU TIDAK PENTING. (Oleh: Gus Selim Bom)

MADZHAB ITU TIDAK PENTING.

Jum'at pagi itu saya di antar kerja oleh mohd. Rizal menggunakan mobil jenis pick up putih, supervisor paruh baya yang akrab saya panggil bang izal ini adalah warga malaysia, berasal dari sabah, ayahnya adalah kaburan TNI soekarnois yang tidak mau mengabdi pada pemerintahan orde baru soeharto, Supervisor saya ini pecinta sunah, celananya selalu di atas mata kaki, jidatnya agak sedikit hitam, setiap ada kesempatan jalan dengan saya ia tampak semangat berdiskusi agama, ia memulai bertanya padaku

"Waktu kerja di ipoh kamu sholat di masjid india atau masjid melayu?".
"Masjid india". Jawabku singkat
"Loh, mereka kan bermadzhab hanafiah sedangkan kamu syafi'iyah".
"Tapi islamnya sama kan?". Sanggahku.

Ia terdiam, memfokuskan diri pada kemudi, beberapa saat kemudian ia berkata
"Madzhab itu tidak penting, langsung saja ke rosulullah, ngaji kitab itu tidak perlu langsung saja ngaji al-qur'an dan hadis".
Seperti di tampar muka saya mendengar celotehnya, saya berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi, Mendekati pom bensin ia berkata
"Kita mampir dulu isi bensin, sekalian saya beli air mineral".
Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Kami melanjutkan perjalanan, aku perhatikan ia tampak fokus mengemudi dan sesekali meminum air mineral yang baru di belinya, saat hening itulah aku mulai bertanya padanya
"Abang kenapa isi bensin di pom bensin?"
"Isi bensin ya di pom bensin masa di toko matrial" jawabnya seraya tertawa
"Kenapa tidak isi saja langsung dari sumbernya di dalam bumi?" Kataku sedikit menghentak. Ia terdiam, mungkin mulai mengerti arah pembicaraanku.

"Abang juga minum air mineral beli dari toko, sudah di kemas botol, kenapa tidak minum langsung dari sumbernya di gunung?" Kataku lagi. Keadaan hening, ia tidak berkata srpatah katapun, mukanya merah padam, keadaan seperti itu aku manfaatkan untuk menjelaskan padanya.
"Kami bermadzhab karena kami orang awam, tidak mampu menafsirkan kandungan al-qur'an dan hadis, dengan mengkaji kitab mereka ( imam madzhab ) kami jadi tahu hukum-hukum agama, dan itu bukan berarti kami melupakan sumbernya, sebab kitab-kitab imam madzhab itu bersumber dari al-qur'an dan hadis yang sanad keilmuannya bersambung sampai ke rosulullah".
Ia tetap terdiam, sorot matanya fokus kedepan, kesempatan itu aku manfaatkan lagi untuk membuka logikanya

"Saya tidak akan tahu cita rasa kopi jika biji kopi saya kunyah mentah-mentah kemudian air panasnya saya tenggak langsung dari termosnya, yang saya dapat justru celaka, kami bermadzhab agar kami tidak celaka, tidak salah kaprah dalam beragama, tidak menjadi intoleran, tidak menjadi radikal, tidak menjadi khawarij, tapi menjadi umat kanjeng nabi yang rokhmatan lil'alamin".

Sampailah saya di KL CENTRAL, saya di turunkan di depan gerbang museum negara, saya segera turun, setelah saya tutup pintu mobil ia bertanya padaku
"Kamu ini sebenarnya siapa?" Tanyanya heran. Aku tersenyum dan segera menjawabnya
"Saya santrinya kyai asmawi yang kebetulan menjadi TKI di negri jiran ini, jika abang ingin tahu lebih banyak tentang madzhab, datanglah ke indonesia, saya hantar abang pada kyai asmawi".

KUALA LUMPUR, JULI 2014.

Minggu, 25 September 2016

Kyai Haji Ahmad Mustofa Bisri (Biografi)

Biografi Kyai Haji Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)

Lahir : Rembang, 10 Agustus 1944
Agama : Islam
Jabatan: Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Istri: Siti Fatimah
Anak:
1. Ienas Tsuroiya
2. Kautsar Uzmut
3. Randloh Quds
4. Rabitul Bisriyah
5. Nada
6. Almas
7. Muhammad Bisri Mustofa
Ayah : Mustofa Bisri
Ibu : Marafah Cholil


Pendidikan :
– Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri
– Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
– Raudlatuh Tholibin, Rembang
– Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Karya Tulis Buku:
– Dasar-dasar Islam (terjemahan, Abdillah Putra Kendal, 1401 H);
– Ensklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987);
– Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979);
– Kimiya-us Sa’aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya);
– Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung);
– Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994);
– Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993);
– Mutiara-Mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994);
– Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995);
– Pahlawan dan Tikus (kumpulan puisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996);
– Mahakiai Hasyim Asy’ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996);
– Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996);
– Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995);
– Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997);
– Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997);
– Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997)

Organisasi:
Mantan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) periode 1994-1999 dan 1999-2004
Rois Am PBNU 2009 -2014

Gus Mus Sang Kyai Pembelajar

Kiyai, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, ini telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia kiyai yang bersahaja, bukan kiyai yang ambisius. Ia kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, ini enggan (menolak) dicalonkan menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama dalam Muktamar NU ke-31 28/11-2/12-2004 di Boyolali, Jawa Tengah.

KH Achmad Mustofa Bisri, akrab dipanggil Gus Mus, ini mempunyai prinsip harus bisa mengukur diri. Setiap hendak memasuki lembaga apapun, ia selalu terlebih dahulu mengukur diri. Itulah yang dilakoninya ketika Gus Dur mencalonkannya dalam pemilihan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama pada Muktamar NU ke-31 itu.

Saya harus bisa mengukur diri sendiri. Mungkin lebih baik saya tetap berada di luar, memberikan masukan dan kritikan dengan cara saya, jelas alumnus Al Azhar University, Kairo (Mesir), ini, yang ketika kuliah mempunyai hobi main sepakbola dan bulutangkis. Setelah tak lagi punya waktu meneruskan hobi lamanya, ulama ini lalu menekuni hobi membaca buku sastra dan budaya, menulis dan memasak, termasuk masak makanan Arab dengan bumbu tambahan.

Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944, dari keluarga santri. Kakeknya, Kyai Mustofa Bisri adalah seorang ulama. Demikian pula ayahnya, KH Bisri Mustofa, yang tahun 1941 mendirikan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, adalah seorang ulama karismatik termasyur.

Ia dididik orangtuanya dengan keras apalagi jika menyangkut prinsip-prinsip agama. Namun, pendidikan dasar dan menengahnya terbilang kacau. Setamat sekolah dasar tahun 1956, ia melanjut ke sekolah tsanawiyah. Baru setahun di tsanawiyah, ia keluar, lalu masuk Pesantren Lirboyo, Kediri selama dua tahun. Kemudian pindah lagi ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia diasuh oleh KH Ali Maksum selama hampur tiga tahun. Ia lalu kembali ke Rembang untuk mengaji langsung diasuh ayahnya.

KH Ali Maksum dan ayahnya KH Bisri Mustofa adalah guru yang paling banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya. Kedua kiyai itu memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.

Kemudian tahun 1964, dia dikirim ke Kairo, Mesir, belajar di Universitas Al-Azhar, mengambil jurusan studi keislaman dan bahasa Arab, hingga tamat tahun 1970. Ia satu angkatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Menikah dengan Siti Fatimah, ia dikaruniai tujuh orang anak, enam di antaranya perempuan. Anak lelaki satu-satunya adalah si bungsu Mochamad Bisri Mustofa, yang lebih memilih tinggal di Madura dan menjadi santri di sana. Kakek dari empat cucu ini sehari-hari tinggal di lingkungan pondok hanya bersama istri dan anak keenamnya Almas.

Setelah abangnya KH Cholil Bisri meninggal dunia, ia sendiri memimpin dan mengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, didampingi putra Cholil Bisri. Pondok yang terletak di Desa Leteh, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 115 kilometer arah timur Kota Semarang, itu sudah berdiri sejak tahun 1941.

Keluarga Mustofa Bisri menempati sebuah rumah kuno wakaf yang tampak sederhana tapi asri, terletak di kawasan pondok. Ia biasa menerima tamu di ruang seluas 5 x 12 meter berkarpet hijau dan berisi satu set kursi tamu rotan yang usang dan sofa cokelat. Ruangan tamu ini sering pula menjadi tempat mengajar santrinya.

Pintu ruang depan rumah terbuka selama 24 jam bagi siapa saja. Para tamu yang datang ke rumah lewat tengah malam bisa langsung tidur-tiduran di karpet, tanpa harus membangunkan penghuninya. Dan bila subuh tiba, keluarga Gus Mus akan menyapa mereka dengan ramah. Sebagai rumah wakaf, Gus Mus yang rambutnya sudah memutih berprinsip, siapapun boleh tinggal di situ.

Di luar kegiatan rutin sebagai ulama, dia juga seorang budayawan, pelukis dan penulis. Dia telah menulis belasan buku fiksi dan nonfiksi. Justru melalui karya budayanyalah, Gus Mus sering kali menunjukkan sikap kritisnya terhadap budaya yang berkembang dalam masyarakat. Tahun 2003, misalnya, ketika goyang ngebor pedangdut Inul Daratista menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, Gus Mus justru memamerkan lukisannya yang berjudul Berdzikir Bersama Inul. Begitulah cara Gus Mus mendorong perbaikan budaya yang berkembang saat itu.

Bakat lukis Gus Mus terasah sejak masa remaja, saat mondok di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ia sering keluyuran ke rumah-rumah pelukis. Salah satunya bertandang ke rumah sang maestro seni lukis Indonesia, Affandi. Ia seringkali menyaksikan langsung bagaimana Affandi melukis. Sehingga setiap kali ada waktu luang, dalam bantinnya sering muncul dorongan menggambar. Saya ambil spidol, pena, atau cat air untuk corat-coret. Tapi kumat-kumatan, kadang-kadang, dan tidak pernah serius, kata Gus Mus, perokok berat yang sehari-hari menghabiskan dua setengah bungkus rokok.

Gus Mus, pada akhir tahun 1998, pernah memamerkan sebanyak 99 lukisan amplop, ditambah 10 lukisan bebas dan 15 kaligrafi, digelar di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Kurator seni rupa, Jim Supangkat, menyebutkan, kekuatan ekspresi Mustofa Bisri terdapat pada garis grafis. Kesannya ritmik menuju zikir membuat lukisannya beda dengan kaligrafi. Sebagian besar kaligrafi yang ada terkesan tulisan yang diindah-indahkan, kata Jim Supangkat, memberi apresiasi kepada Gus Mus yang pernah beberapa kali melakukan pameran lukisan.

Sedangkan dengan puisi, Gus Mus mulai mengakrabinya saat belajar di Kairo, Mesir. Ketika itu Perhimpunan Pelajar Indonesia di Mesir membikin majalah. Salah satu pengasuh majalah adalah Gus Dur. Setiap kali ada halaman kosong, Mustofa Bisgus musri diminta mengisi dengan puisi-puisi karyanya. Karena Gus Dur juga tahu Mustofa bisa melukis, maka, ia diminta bikin lukisan juga sehingga jadilah coret-coretan, atau kartun, atau apa saja, yang penting ada gambar pengisi halaman kosong. Sejak itu, Mustofa hanya menyimpan puisi karyanya di rak buku.

Namun adalah Gus Dur pula yang mengembalikan Gus Mus ke habitat perpuisian. Pada tahun 1987, ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Gus Dur membuat acara Malam Palestina. Salah satu mata acara adalah pembacaan puisi karya para penyair Timur Tengah. Selain pembacaan puisi terjemahan, juga dilakukan pembacaan puisi aslinya. Mustofa, yang fasih berbahasa Arab dan Inggris, mendapat tugas membaca karya penyair Timur Tengah dalam bahasa aslinya. Sejak itulah Gus Mus mulai bergaul dengan para penyair.

Sejak Gus Mus tampil di Taman Ismail Marzuki, itu kepenyairannya mulai diperhitungkan di kancah perpuisian nasional. Undangan membaca puisi mengalir dari berbagai kota. Bahkan ia juga diundang ke Malaysia, Irak, Mesir, dan beberapa negara Arab lainnya untuk berdiskusi masalah kesenian dan membaca puisi. Berbagai negeri telah didatangi kyai yang ketika muda pernah punya keinginan aneh, yakni salaman dengan Menteri Agama dan menyampaikan salam dari orang-orang di kampungnya. Untuk maksud tersebut ia berkali-kali datang ke kantor sang menteri. Datang pertama kali, ditolak, kedua kali juga ditolak. Setelah satu bulan, ia diizinkan ketemu menteri walau hanya tiga menit.

Kyai bertubuh kurus berkacamata minus ini telah melahirkan ratusan sajak yang dihimpun dalam lima buku kumpulan puisi: Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (1988), Tadarus Antologi Puisi (1990), Pahlawan dan Tikus (1993), Rubaiyat Angin dan Rumput (1994), dan Wekwekwek (1995). Selain itu ia juga menulis prosa yang dihimpun dalam buku Nyamuk Yang Perkasa dan Awas Manusia (1990).

Tentang kepenyairan Gus Mus, Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri menilai, gaya pengucapan puisi Mustofa tidak berbunga-bunga, sajak-sajaknya tidak berupaya bercantik-cantik dalam gaya pengucapan. Tapi lewat kewajaran dan kesederhanaan berucap atau berbahasa, yang tumbuh dari ketidakinginan untuk mengada-ada. Bahasanya langsung, gamblang, tapi tidak menjadikan puisinya tawar atau klise. Sebagai penyair, ia bukan penjaga taman kata-kata. Ia penjaga dan pendamba kearifan, kata Sutardji.

Kerap memberi ceramah dan tampil di mimbar seminar adalah lumrah bagi Gus Mus. Yang menarik, pernah dalam sebuah ceramah, hadirin meminta sang kiai membacakan puisi. Suasana hening. Gus Mus lalu beraksi: Tuhan, kami sangat sibuk. Sudah.

Sebagai cendekiawan muslim, Gus Mus mengamalkan ilmu yang didapat dengan cara menulis beberapa buku keagamaan. Ia termasuk produktif menulis buku yang berbeda dengan buku para kyai di pesantren. Tahun 1979, ia bersama KH M. Sahal Mahfudz menerjemahkan buku ensiklopedia ijmak. Ia juga menyusun buku tasawuf berjudul Proses Kebahagiaan (1981). Selain itu, ia menyusun tiga buku tentang fikih yakni Pokok-Pokok Agama (1985), Saleh Ritual, Saleh Sosial (1990), dan Pesan Islam Sehari-hari (1992).

Ia lalu menerbitkan buku tentang humor dan esai, Doaku untuk Indonesia? dan Ha Ha Hi Hi Anak Indonesia. Buku yang berisi kumpulan humor sejak zaman Rasullah dan cerita-cerita lucu Indonesia. Menulis kolom di media massa sudah dimulainya sejak muda. Awalnya, hatinya panas jika tulisan kakaknya, Cholil Bisri, dimuat media koran lokal dan guntingan korannya ditempel di tembok. Ia pun tergerak untuk menulis. Jika dimuat, guntingan korannya ditempel menutupi guntingan tulisan sang kakak. Gus Mus juga rajin membuat catatan harian.

Seperti kebanyakan kyai lainnya, Mustofa banyak menghabiskan waktu untuk aktif berorganisasi, seperti di NU. Tahun 1970, sepulang belajar dari Mesir, ia menjadi salah satu pengurus NU Cabang Kabupaten Rembang. Kemudian, tahun 1977, ia menduduki jabatan Mustasyar, semacam Dewan Penasihat NU Wilayah Jawa Tengah. Pada Muktamar NU di Cipasung, Jawa Barat, tahun 1994, ia dipercaya menjadi Rais Syuriah PB NU.

Enggan Ketua PB NU
Kesederhanaannya telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia didorong-dorong oleh Gus Dur dan kawan-kawan dari kelompok NU kultural, untuk mau mencalonkan diri sebagai calon ketua umum PB NU pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004, di Boyolali, Jawa Tengah. Tujuannya, untuk menandingi dan menghentikan langkah maju KH Hasyim Muzadi dari kelompok NU struktural. Kawan karib Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir, ini dianggap salah satu ulama yang berpotensi menghentikan laju ketua umum lama. Namun Gus Mus justru bersikukuh menolak.

Alhasil, Hasyim Muzadi mantan calon wakil presiden berpasangan dengan calon presiden Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan, pada Pemilu Preisden 2004, itu terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Tanfidziah berpasangan dengan KH Achmad Sahal Makhfud sebagai Rois Aam Dewan Syuriah PB NU. Muktamar berhasil meninggalkan catatan tersendiri bagi KH Achmad Mustofa Bisri, yakni ia berhasil menolak keinginan kuat Gus Dur, ulama kontroversial.

Ternyata langkah seperti itu bukan kali pertama dilakukannya. Jika tidak merasa cocok berada di suatu lembaga, dia dengan elegan menarik diri. Sebagai misal, kendati pernah tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah tahun 1987-1992, mewakili PPP, demikian pula pernah sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), mantan Rois Syuriah PB NU periode 1994-1999 dan 1999-2004 ini tidak pernah mau dicalonkan untuk menjabat kembali di kedua lembaga tersebut. Lalu, ketika NU ramai-ramai mendirikan partai PKB, ia tetap tak mau turun gelanggang politik apalagi terlibat aktif di dalamnya.

Demikian pula dalam Pemilu Legislatif 2004, meski namanya sudah ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Tengah, ia lalu memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan itu sendiri digelar. Ia merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memasuki bidang pemerintahan. Ia merasa, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan oleh rakyat. Selama saya menjadi anggota DPRD, sering terjadi pertikaian di dalam batin saya, karena sebagai wakil rakyat, yang menerima lebih banyak dibandingkan dengan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat Jawa Tengah, kata Mustofa mengenang pengalaman dan pertentangan batin yang dia alami selama menjadi politisi.

Dicalonkan menjadi ketua umum PB NU sudah seringkali dialami Gus Mus. Dalam beberapa kali mukhtamar, namanya selalu saja dicuatkan ke permukaan. Ia adalah langganan “calon ketua umum” dan bersamaan itu ia selalu pula menolak. Di Boyolali 2004 namanya digandang-gandang sebagai calon ketua umum. Bahkan dikabarkan para kyai sepuh telah meminta kesediaannya. Sampai-sampai utusan kyai sepuh menemui ibunya, Marafah Cholil, agar mengizinkan anaknya dicalonkan. Sang ibu malah hanya menjawab lugas khas warga ulama NU, Mustofa itu tak jadi Ketua Umum PB NU saja sudah tak pernah di rumah, apalagi kalau menjadi ketua umum. Nanti saya tak pernah ketemu.

Gus Mus sendiri yang tampak enggan dicalonkan, dengan tangkas menyebutkan, Saya mempunyai hak prerogatif untuk menolak, ucap pria bertutur kata lembut yang sesungguhnya berkawan karib dengan Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir. Saking karibnya, Gus Mus pernah meminta makan kepada Gus Dur selama berbulan-bulan sebab beasiswanya belum turun-turun. Persahabatan terus berlanjut sampai sekarang. Kalau Gus Dur melawat ke Jawa Timur dan singgah di Rembang, biasanya mampir ke rumah Gus Mus. Sebaliknya, bila dia berkunjung ke Jakarta, sebisa-bisanya bertandang ke rumah Gus Dur. Selain saling kunjung, mereka tak jarang pula berkomunikasi melalui telepon