Kamis, 30 Juni 2016

Jihad Membela Negara 10 November 1945 (Oleh : Shuniyya Ruhama)

10 NOVEMBER 1945, SURABAYA MEMBARA

FAKTA NKRI BUKAN HAYALAN, BUKAN NEGARA BONEKA

Bualan Belanda yang menyatakan bahwa Indonesia hanyalah negara hayalan yang diproklamirkan oleh segelintir orang berhasil mempengaruhi Tentara Sekutu untuk membantu Belanda mendapatkan wilayah jajahannya ini.

Belanda juga berhasil mempengaruhi Sekutu akan kekhawatiran berdirinya Indonesia sebagai sebuah negara boneka Jepang, karena kedekatan Presiden Sukarno dengan pihak Dai Nippon.

Akhirnya, dengan penuh jumawa, Tentara Sekutu selaku PEMENANG Perang Dunia Kedua, diwakili oleh Tentara Inggris mendaratkan kekuatan penuh di Surabaya.

Tak dinyana, tak diduga, bahwa Negara Indonesia merdeka memang benar-benar ada. Hal ini terbukti dengan berbagai pertempuran kecil di Surabaya hingga tewasnya JENDERAL MALLABY. Tentu hal ini merupakan pukulan telak yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Bagaimana bisa? Menghadapi Pasukan NAZI Jerman dan Pasukan Maha Dahsyat Jepang yang memiliki kemampuan militer imbang saja selama kurun waktu 1939-1945, tak seorang Jenderal mereka terbunuh, tapi melawan arek-arek Suroboyo yang bersenjatakan sisa-sisa rampasan Jepang dan senjata tradisional lainnya bisa membunuh Jenderal mereka?

Marwah sebagai pemenang Perang Dunia-pun terusik. Dipersiapkanlah serangan balasan yang luar biasa, untuk meyakinkan dunia bahwa Indonesia tidak ada. Dan ancaman ini dijawab oleh para Ulama di bawah komando Hadlrotus Syaikh Hasyim Asy'arie dengan mengumandangkan Jihad Semesta Fardlu Ain bagi yang tinggal dalam radius 90 KM dari Surabaya.

Di bawah pimpinan Waline Gusti Allah Saka Kulon Yang Mulia Simbah Kyai Haji Abas Abdul Jamil, dan didukung penuh oleh Yang Mulia Simbah Kyai Haji Bisri Musthofa Rembang sebagai tempat persinggahan menuju arena pertempuran, para Mujahidin menyongsong datangnya Sang Juara Perang Dunia II.

Tak mau ketinggalan, Yang Mulia Simbah Kyai Mahrus Aly Lirboyo juga tancut taliwondo menuju Surabaya bersama 90 santri pilihan untuk mempertahankan Indonesia. Sekali lagi: INDONESIA.

Dan perangpun pecah. Puluhan ribu nyawa mujahidin Indonesia melayang. Dalam pertempuan ini, sekali lagi fakta membuktikan ketangguhan para Wali Allah, setelah Jenderal Mallaby terbunuh, para pejuang dan tentara Sekutu kembali menyaksikan sebuah kejadian tidak masuk akal:

Pesawat yang ditumpangi oleh BRIGADIR JENDERAL ROBERT GUY LODER SYMONDS meledak di udara terkena lemparan sandal bakiak milik Yang Mulia Mbah Abas, bersama dengan dua pesawat Mosquito lainnya.

Surabaya hancur lebur. Butuh tiga minggu kemudian bagi Sekutu untuk menguasai Surabaya dengan harga yang terlalu mahal. Dan justru menjadi bumerang bagi mereka sendiri.

Dunia internasional, terutama dalam tubuh masyarakat dan tokoh Inggris sendirilah yang menyerukan penarikan diri dan kemudian mendukung penuh kemerdekaan Indonesia, setelah itu meminta Belanda untuk hengkang dari Indonesia.

Ila hadlroti arwahi Hadrotusy syaikh Kyai Haji Hasyim Asy'arie, Yang Mulia Simbah Kyai Haji Abbas Abdul Jamil Buntet, Yang Mulia Simbah Kyai Haji Bisri Musthofa Rembang, Yang Mulia Simbah Kyai Haji Machrus Aly Lirboyo, Bung Tomo, para Kyai yang tidak bisa disebutkan satu persatu, para santri, dan para pejuang untuk Indonesia wa azwajihim wa dzurriyatihim wa furu'ihim wa silsilatihim wa muridihim wa muhibbihim say'un lillahu lana wa lahum al fatihah...

Shuniyya Ruhama
10 November 2015

#NU #Ulama #ayonyantri #ayongaji #ayomondok #NUsantara #Indonesia #Nahdliyin #Wali9

Semangat Pengorbanan Kyai Iskandar Jogja Untuk Ibu Pertiwi (Oleh:Shuniyya Ruhama)

Lem Dindingpun Jadi Makanan Berbuka Puasa

Ketika Indonesia telah diakui kembali kedaulatannya, pada awal tahun 1950, para pejuang kembali ke basis masing-masing. Demikian pula Mbah Yai Iskandar Jogja sekeluarga kembali ke desa asal beliau. Ternyata rumah sudah rata dengan tanah dan segala peralatan sudah habis tak bersisa akibat terlalu lama ditinggalkan. Maka, beliau membangun kembali rumah dan mushola dengan peralatan seadanya, hingga masih banyak bagian dinding yang belubang.

Dituturkan langsung oleh beliau sebagai pelaku sejarah, saat memasuki masa puasa menjelang sepuluh malam terakhir, beliau berinisiatif untuk memperbaiki mushola. Maka dikumpulkanlah jamaah untuk membeli kertas, dan meminta Mbah Nyai Arifah, istri beliau untuk membuat lem kanji agar bisa menempel di dinding bambu mushola.

Dengan riang gembira, di bulan Ramadlan segenap jamaah membuat dinding dari kertas dan lem kanji, dengan tujuan supaya saat dipakai i'tikaf taharrow laylatul qodar tidak kedinginan. Begitu asyiknya pekerjaan itu, hingga tak terasa waktu maghrib tiba. Jamaah kebingungan, karena tidak ada makanan untuk berbuka puasa, saking susahnya mendapatkan bahan makanan di masa itu. Maka Mbah Nyai Arifah merebus kembali sisa lem kanji kemudian diberi gula merah, dan digunakan untuk buka bersama para jamaah.

Pada saat Shuniyya sowan ke beliau pertama untuk mengaji tahun 1990-an, mushola sudah berdinding batu bata, berbeda sama sekali dengan aslinya. Sayang sekali tidak ada dokumentasi bentuk mushola sebelum direnovasi, sebuah mushola berdinding bambu jarang-jarang dan dilapisi dengan kertas dan lem kanji.
Sungguh dalam perjalanan hidmah beliau untuk negeri ini terdapat teladan bagi orang-orang yang berakal.

Khushushon ila ruhi Mbah Yai Is, wa zawjatihi Mbah Nyai Arifah fi quburihima ila yaumil qiyamah binuri wa bisyafa'ati, wabil kiromil fatihah...

Rabu, 29 Juni 2016

Peran KH Agus Salim dan Prof Muh. Yamin Dalam Sumpah Pemuda (Oleh:Shuniyya Ruhama)

Kyai Haji Agus Salim dan Prof. Muh. Yamin
Penasehat Jong Islamieten Bond Penghantar Sumpah Pemuda

Sosok Kyai Haji Agus Salim selama ini hanya dikenal sebagai sosok diplomat ulung yang pernah dimiliki bangsa ini. Melalui beliaulah Kemerdekaan Indonesia untuk pertama kali diakui oleh negara Mesir dan menguatkan posisi Indonesia di mata dunia, meskipun sebelumnya telah diakui oleh Palestina.

Haji Agus Salim menjadi pelopor berdirinya Jong Islamieten Bond (JIB) untuk menghalau gerakan sekuler yang berkembang pada masa itu. Bahkan dikabarkan, organisasi yang bersifat kesukuan pada masa itu diyakini beliau tidak akan menghantarkan Indonesia merdeka.

Maka lewat JIB inilah diadakanlah Kongres Pemuda II dan menelurkan Sumpah Pemuda. Tidak main-main, dengan pandangan beliau yang sedemikian luas, seluruh komponen dikumpulkan, sehingga perwakilan dari seluruh Nusantara hadir sekitar 750 orang.

Perwakilan datang dari berbagai kalangan mulai dari kesukuan, keturunan asing, juga keagamaan. Semua menyatupadu menjadi satu. Oleh Muhammad Yamin, disodorkan teks naskah Sumpah Pemuda , diparaf pemimpin sidang yakni Sugondo Joyopuspito dan disetujui secara aklamasi oleh semua yang hadir.

Maka didapatlah Sumpah Pemuda seperti yang kita miliki saat ini.

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Kongres ini mendapat pengawalan sangat ketat dari kepolisian Belanda. Namun, tidak membuat gentar para peserta kongres. Dekorasi dibuat merah-putih, karena Bendera Merah Putih tidak boleh dikibarkan. Melantunkan lagu Indonesia raya walaupun hanya dengan melodi biola tanpa melantunkan syairnya.

Hal ini terbukti dengan membludaknya perwakilan dari seluruh Indonesia. Mulai PPPI, Jong Java,Jong Soematranen Bond, Jong Bataks Bond,Jong Islamieten Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon , Pemoeda Kaoem Betawi, bahkan fakta membuktikan perwakilan dari Pemuda Papua juga hadir pada masa itu.

Indonesia telah dilahirkan. JIB melalui Haji Agus Salim dan Muhammad Yamin telah melukiskan sejarah Indonesia dengan tinta emas, yang kelak kemerdekaannya akan dipertahankan mati-matian oleh Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’arie beserta umat Islam di seantero Indonesia.

Dalam perkembangannya, peran JIB dikecilkan dan seakan dihilangkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Padahal, peran mereka sangatlah signifikan. Pada masa pendudukan Jepang, JIB dibekukan karena dinilai mengkhawatirkan sepak terjangnya.

Di kemudian hari, para pelaku sejarahnya-pun tidak menuntut. Sebab, mereka merasakan bahwa yang dimunculkan haruslah keikhlasan, bukan sifat ingin menonjolkan diri. Indonesia merdeka sudah lebih dari cukup buat para pejuang itu.

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA

Shuniyya Ruhama
28 Oktober 2015

KH Abdul Wahab Hasbullah Pencetus Pesantren Putri Indonesia (Oleh :Shuniyya Ruhama)

PENCETUS PESANTREN PUTRI DAN PENGAWAL SEJATI NKRI
YANG MULIA SIMBAH KYAI HAJI WAHAB HASBULLAH

Telah disimak oleh sejarah, semangat luar biasa kaum santri dalam melawan penjajah di bawah komando Hadlrotusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy’arie mencapai puncaknya. Menjadi jihad semesta yang menggetarkan dunia. Tentara Sekutu, dalam hal ini diwakili oleh Inggris sebagai pemenang Perang Dunia Kedua dibuat gentar oleh santri.

Babak berikutnya, saat Belanda hendak menancapkan kukunya ke bumi pertiwi dan dilawan keras oleh para pejuang, Gusti Allah memanggil kekasihNya. Hadlrotusy Syaikh pun berpulang. Duka yang mengguncangkan jiwa ini tidak bisa disikapi dengan berpangku tangan dan meratap. Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya sampai titik darah penghabisan.

Maka, atas kesepakatan seluruh ulama, ditunjuklah Yang Mulia Simbah Kyai Haji Wahab Hasbullah sebagai Rais Am untuk meneruskan kepemimpinan Hadlrotusy Syaikh. Mengemban amanah, membawa santri se Indonesia untuk menertibkan barisannya lagi. Gelora juang pun kembali menggelegak, dan mencapai puncaknya dengan hengkangnya Belanda dari bumi pertiwi.

Masa khidmah Yang Mulia Mbah Wahab adalah yang terpanjang dalam sejarah NU. Mulai antara tahun 1947-1970. Di tahun-tahun itulah, beliau melewati masa-masa keretakan dan kegoncangan negeri yang begitu beliau cintai. Mulai dari Agresi Militer Belanda II, Pemberontakan PKI Madiun, Pemberontakan DI/TII, Pemberontakan PRRI/Permesta hingga kudeta berdarah G 30 S/PKI.

Sejak muda, pembaharuan brilian beliau yang sangat dirasakan manfaatnya adalah saat beliau mendapat restu dari Hadlrotusy Syaikh untuk mengijinkan santri putri menimba ilmu khusus di Pesantren. Restu ini didapat setelah terjadinya perdebatan seru antara beliau dengan junior beliau terhebat, yakni Yang Mulia Simbah Kyai Haji Bisri Syansuri. Maka sejak itu, kaum muslimah mendapatkan kesempatan yang setara dalam menimba ilmu. Beliaulah yang merintis dan diikuti oleh seluruh pesantren di Nusantara.

Uniknya, ide cemerlang ini justru pertama kali direalisasikan oleh Yang Mulia Simbah Kyai Haji Bisri Syansuri yang mendirikan Pondok Pesantren Putri pertama di Indonesia pada tahun 1921. Barulah Yang mulia Simbah Kyai Haji Wahab Hasbullah berkesempatan membuka Pondok Pesantren Putri pada tahun 1944.

Kepiawaian beliau juga terbaca, saat menjadi juru bicara dalam Komite Hijaz. Hingga kini tidak ada yang bisa memecahkan misteri bagaimana cara beliau berjumpa dan berhadapan serta membuat Raja Saud yang dikenal sebagai Raja yang beringas itu bisa mengabulkan permintaan beliau. Kita hanya bisa menikmati saja hasil perjuangan beliau. Yakni kebebasan bermadzhab di Saudi Arabia, orang di luar penganut madzhab Wahaby diperkenankan untuk naik haji, dan dibatalkannya pemusnahan kubah makam Kanjeng Nabi Agung Muhammad SAW.

Demikian pula saat bergabung di partai Masyumi, NU tidak memiliki keterwakilan yang memadai bahkan dijadikan bahan tertawaan, sebab NU jarang sekali memiliki sarjana. Yang Mulia Mbah Wahab bersikeras untuk keluar dari Masyumi, dan terbukti, NU berhasil menjadi salah satu partai terbesar pada Pemilu 1955. Dan setelah itu Masyumi dibubarkan karena banyak tokohnya yang terlibat dalam pemberontakan PRRI.

Beliau juga menyaksikan pergantian kepemimpinan dari Orde Lama kepada Orde Baru. Kembali beliau dengan sukses mengantarkan NU menjadi jam’iyah yang sanggup bertahan walau seribu jaman berganti. Pada tahun 1970 nikmat beliau telah dicukupkan dan dipanggil oleh kekasihNya.

Beliau telah menorehkan sejarah emas bagi bangsa Indonesia. Karena itulah, tidak heran jika beliau di kemudian hari diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL 22 Oktober . Semoga berkahnya meliputi seluruh Bangsa Indonesia.

Ila hadlroti arwahi Yang Mulia Hadlrotusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy’arie, Yang Mulia Simbah Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah, Yang Mulia Simbah Kyai Haji Bisri Syansuri wa azwajihim wa dzurriyatihim wa silsilatihi wa ashhabihim wa muridihim wa muhibbihim syai-un lillahu lana wa lahum al fatihah…

Shuniyya Ruhama
Pengajar di PPTQ Al Istiqomah Weleri-Kendal Jawa Tengah
25 Oktober 2015

Pancasila Harga Mati Bagi NU (Oleh: Shuniyya Ruhama)

PANCASILA SAKTI
TANGGUNGJAWAB SELURUH ANAK NEGERI

Tanggal 1 Oktober bangsa Indonesia memperingati hari Kesaktian Pancasila. Asal mula peringatan hari hikmad bagi bangsa Indonesia ini adalah ketika Pancasila berhasil diselamatkan dari kelompok dan golongan yang hendak mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Dalam hal ini, waktu itu adalah Komunis.

Keabsahan Pancasila sebagai sebuah dasar negara merupakan harga mati. Sudah terbukti dengan pernyataan langsung dari para tokoh NU yang sudah tidak diragukan lagi muktabaroh ilmu dan ketinggian hidmahnya untuk bangsa Indonesia.

Adalah Yang Mulia Simbah Kyai Haji Bisri Syansuri, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Jombang , Pendiri NU, sekaligus Rois Am PBNU periode 1971-1980, memberikan pernyataan, " Sekarang saya sudah mengerti apa itu Pancasila. Sekarang bila ada orang Indonesia, orang Islam, orang NU, yang anti Pancasila berarti ia anti padaku."

Tak kalah berkharismanya, Yang Mulia Simbah Wali Kyai Haji Raden As'ad Syamsul Arifin Situbondo terang-terangan dhawuh, " Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia, harus ditaati, harus diamalkan, harus tetap dipertahankan dan dijaga kelestariannya. "

Dan tak ketinggalan Yang Mulia Simbah Kyai Haji Ahmad Shiddiq, Sesepuh Majlis Dzikrul Ghofilin sekaligus Rois Am PBNU periode 1984-1991 dengan lemah lembutnya bertitah, " Ibarat makanan, Pancasila yang sudah kita kunyah selama 36 tahun kok sekarang dipersoalkan halal haramnya."

Dari sini jelaslah, bahwa Pancasila merupakan harga mati yang wajib dipertahankan oleh seluruh anak negeri. Sebagai generasi penerus bangsa Indonesia, kita wajib waspada dengan ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan dari segala penjuru. Baik bahaya laten maupun manifestasinya. baik dari arus kanan maupun arus kiri, baik dari barat maupun timur.

Entah itu Komunis, Kapitalis, Liberal, Takfiri Wahaby serta ideologi apapun yang hendak meruntuhkan kejayaan negeri ini.

Pancasila Sakti, NKRI Harga Mati.

Ila hadlroti arwahi Yang Mulia Simbah Kyai Haji Bisri Syansuri, Yang Mulia Simbah Wali Kyai Haji Raden As'ad Syamsul Arifin Situbondo, Yang Mulia Simbah Kyai Haji Ahmad Shiddiq wa azwajihim wa dzurriyatihim wa furi'ihim wa silsilatihim wa muhibbihim syaiun lillahu lana wa lahum al fatihah...

Shuniyya Ruhama
2 Oktober 2015

KH Maksum Jauhari, Lirboyo,Kediri (Oleh:Shuniyya Ruhama)

KH MAKSUM JAUHARI- LIRBOYO KEDIRI
BANGKITKAN SEMANGAT JIHAD TUMPAS PKI

Nama Yang Mulia KH Maksum Jauhari atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Maksum bagi warga Nahdliyyin sangat familiar terdengar. Seorang pendekar sejati yang gagah berani, penuh dengan karomah, tegas, tapi lembut, ramah dan bersahaja.

Sejak kecil, karomah beliau sudah bisa dilihat secara kasat mata oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, beliau tidak pernah menggunakan kelebihannya itu untuk hal yang negatif.

Yang paling menonjol dari diri Gus Maksum ialah, di saat usia muda remaja beliau sudah menunjukkan sikap prawira yang luar biasa, dan berani terang-terangan menentang Partai Komunis Indonesia (PKI) yang melalui ormas-ormasnya acap kali melakukan pelecehan agama Islam.

Sebagai seorang pendekar, beliau amat ditakuti oleh orang PKI karena belum pernah ada sejarah, seorang pendekar PKI-pun yang berhasil mengalahkan beliau. Yang terjadi adalah beliau selalu saja mampu merobohkan lawan tandingnya.

Tatkala pemuda-pemuda PKI semakin menjadi-jadi dan mulai berani melakukan tindakan brutal dengan menyerang peserta pengajian, menyandera panitia dan melempar mushaf Al Quran lalu menginjak-injaknya, Gus Maksum tampil terdepan mengawal keselamatan peserta pengajian yang masih trauma. Kejadian tersebut baru beliau ketahui setelah selesai, namun banyak peserta pengajian yang tidak berani kembali ke kampung dan pondok. Dalam peristiwa itu, ayahanda beliau, KH Jauhari mendapat penganiayaan dan perlakuan tidak terhormat. Pengawalan itu beliau lakukan seorang diri.

Pasca puncak Gerakan 30 September 1965, Yang Mulia KH Mahrus Aly, sebagai Ketua Syuriah NU, mendapat kabar bahwa PKI sudah menyiapkan lubang untuk melakukan pembantaian terhadap diri beliau beserta keluarga ndalem, juga seluruh santri Lirboyo. Atas berita ini, Mbah Mahrus memerintahkan Gus Maksum untuk segera mempersiapkan diri dan melatih seluruh santri remaja dan dewasa untuk bersiap-siap.

Bentrokan antara santri dan anggota PKI tidak dapat dihindarkan lagi. Berkat panduan Mbah Mahrus Aly, beliau tidak memperbolehkan santri menyerang anggota PKI yang berada di sekitar pondok. Sikap luar biasa dari Mbah Mahrus ini sangat ditaati dan dijaga oleh Gus Maksum.

Gerakan pembelaan diri dan pembalasan kepada anggota PKI semakin membahana setelah organisasi ini dinyatakan sebagai Organisasi Terlarang di Indonesia. Sikap "diam" Gus Maksum dan para santri yang diibaratkan seperti api disiram bensin, seketika tersulut tak terbendung. Apalagi, selain kekerasan fisik oleh Pemuda Rakyat dengan jargon Ganyang Santri, Ganyang Sorban, Feodal Borjuis, dan juga sebutan Setan Desa bagi Kyai.

Tak ketinggalan, PKI melalui Lekra-nya acapkali menyinggung umat Islam dengan menampilkan Ludruk dengan judul yang tidak bisa diterima oleh akidah, seperti "Gusti Allah Dadi Nganten", "Malaikat Kawin", dll...

Operasi Pagar Betis, yang merupakan kerjasama antara TNI, Santri, Anshor dan Masyarakat berhasil menumpas kelompok dari organisasi terlarang. Tentu tak lepas dari peran penting Gus Maksum. TNI sangat diuntungkan dengan hal ini. Sebab, pada masa itu, banyak anggota TNI yang menjadi "binaan" PKI, namun tentu saja tidak ada seorangpun Santri dan Ansor yang PKI, sehingga membuahkan hasil yang gilang gemilang. Kediri dan sekitarnya berhasil dibersihkan dari PKI.

Ila hadlroti ruhi KH Maksum Jauhari Lirboyo Kediri wa zawjatihi wadzurriyatihi wa furi'ihi wasilsilatihi wa muhibbihi syaiun lillahu lana walahum al fatihah...

Shuniyya Ruhama H
30 September 2015

Kyai Soleh Darat (Oleh :Shuniyya Ruhama)

SYAIKHONA MBAH SOLEH nDARAT SEMARANG
PENTERJEMAH AL QURAN DALAM BAHASA JAWA

Yang Mulia Syaikhona Mbah Soleh nDarat Semarang adalah salah satu founding father bangsa Indonesia ..... Guru dari Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asyari (Pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), Habib Yahya (Buyut Maulana Habib Lutfi- Pekalongan), Mbah Dalhar-Watucongol Magelang, Mbah Munawir Krapyak-Jogja, dan Ibu RA. Kartini, serta tokoh-tokoh bangsa Indonesia lainnya ...

Dikisahkan, Yang Mulia Mbah Soleh nDarat adalah seorang Priyogung yang hampir tidak pernah menampakkan karomahnya kepada siapapun. Sehingga, dalam kesehariannya, jika orang tidak faham tentang beliau, maka tidak sedikitpun menyadari bahwa yang ada di hadapannya adalah seorang wali Allah.

Beliau hidup di jaman penjajahan Belanda. Sebagaimana para Kyai pada jaman itu, beliau termasuk orang yang memupuk rasa Nasionalisme kepada para santri dan pengikutnya. Hal inilah yang memusingkan Belanda. Tetapi, pembawaan beliau yang tenang dan tidak tampak bahayanya, membuat Belanda tidak pernah punya alasan untuk menangkap, apalagi mengasingkan beliau Yang Mulia.

Sehingga suatu saat, ada seorang pengikut Mbah Soleh nDarat berhasil dipengaruhi oleh Belanda dengan memberikan banyak harta. Pengikut Mbah Soleh nDarat tersebut berusaha membujuk Gurunya supaya tidak lagi kritis dan tidak menanamkan jiwa nasionalisme. Beliau dihadiahi perhiasan dan sejumlah uang. Mbah Soleh nDarat hanya tersenyum saja.

Beliau bertitah, "Aku punya yang lebih banyak daripada itu," sembari menampakkan emas permata dan uang yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada hadiah tersebut.Menyadari hal ini, pengikut beliau minta maaf dan menyadari bahwa gurunya bukanlah "orang biasa".

Beliau juga termasuk orang yang berani melanggar peraturan dari Belanda, saat diminta oleh Ibu Kita Kartini, wanita Indonesia yang agung sepanjang masa, untuk menterjemahkan Al Quran dalam bahasa Jawa.

Di masa itu, menterjemahkan Al Quran ke bahasa daerah merupakan hal yang amat dilarang oleh Pemerintah Belanda. Sebab, Belanda menderita trauma akibat gelora Jihad yang dialunkan Al Quran melalui para Ulama.

Atas berkat perantara Ibu Kartini, Yang Mulia Mbah Soleh nDarat berkenan menterjemahkan Al Quran dalam Bahasa Jawa untuk pertama kalinya, sehingga pembaca Kitab Agung Gegemaning Jalma bisa dipelajari maknanya.

Ila hadlroti ruhi Syaikhona Mbah Soleh nDarat Semarang wa zawjatihi wadzurriyatihi wa furi'ihi wasilsilatihi wa muhibbihi syaiun lillahu lana walahum al fatihah...

Shuniyya Ruhama H
27 September 2015