Sabtu, 16 September 2017

PAHAMI NU SECARA UTUH ( Oleh : Siti Fatimah)

PAHAMI NU SECARA UTUH, AGAR TIDAK MENJADI NAHDLIYIN RASA WAHABI DAN FPI
Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan yang sangat unik. Sebagai organisasi yang dimotori oleh kiai-kiai di pesantren, NU ternyata sering kali melahirkan pemikiran yang sangat modern dan sepak terjangnya kerap di luar dugaan. Dalam demo berjilid-jilid terkait tuduhan penistaan agama oleh Ahok misalnya, NU justru menahan diri untuk tidak turut larut dalam gegap gempitanya aksi-aksi yang dilabeli "Bela Islam".
Keunikan yang dimiliki NU dan sepak terjangnya yang sulit diprediksi itu, membuat banyak kalangan gagal memahami NU. Bahkan tidak sedikit orang yang merasa menjadi bagian dari warga NU, tetapi sesungguhnya ia tidak memahami NU. Sehingga muncul istilah "NU rasa FPI", "NU rasa wahabi" dan sebagainya. Dia merasa sebagai orang NU tapi cara pandangnya seperti FPI, seperti wahabi dan sebagainya.
Bukan cuma itu. Sejumlah kiai dan pesantren tertentu yang aqidah dan amaliahnya sama dengan NU, tapi karena tidak memahami NU, mereka terkesan mengambil jarak dengan NU, malah ada pula yang nyinyir jika bicara soal NU.
Kendati demikian, NU tidak pernah nampak gamang. NU seolah tidak merasa butuh untuk dipahami. NU membiarkan orang untuk mau memahami atau tidak memahaminya. NU tetap konsisten dalam kemandirian berpikir dan bertindak. Sebab bagi NU sendiri sudah jelas peran apa yang harus dilakoni.
Sebagaimana diketahui, NU didirikan oleh para tokoh ulama Ahlussunah wal Jamaah, dan dibentengi oleh para kiai dari pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara. Untuk apakah para ulama yang sudah berkiprah di pesantren harus pula membuat organisasi yang kemudian diberi nama Nahdlatul Ulama?
Dari sini sudah jelas, NU bukanlah semacam majelis taklim atau sejenisnya. Sebab jika semata hanya untuk mengurusi persoalan agama dan internal umat Islam, para kiai sudah melakukannya di pesantren-pesantren. Tapi sejak mulanya, ketika masih berupa embrio bernama Komite Hijaz, NU memang sudah dirancang oleh para kiai untuk dipersembahkan kepada Indonesia dengan kebhinekaannya, dengan kemajemukannya, dengan pluralitasnya.
Kalau boleh meminjam sebuah perumpamaan, maka ibarat restoran pesantren adalah dapurnya, sedangkan NU adalah ruang depan tempat masakan disajikan. Pesantren adalah tempat mempelajari Islam, sedangkan NU berperan untuk menampilkan Islam dalam rule of game yang berlaku di Indonesia yang plural.
Peran NU itulah yang sering disalahpahami oleh orang-orang yang hanya mempelajari Islam, tetapi tidak kemudian belajar bagaimana hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia yang bhineka tunggal ika. Sebab mereka hanya mempelajari Islam untuk ruang internal, Islam yang masih berada di 'dapur restoran'. Mereka belum belajar bagaimana 'menyajikan' Islam dalam ruang kebangsaan.
Maka alangkah mubadzir dan membuang-buang energi saja, jika NU harus melayani kenyinyiran mereka yang gagal paham. Lebih baik bersikap seperti yang dikatakan pepatah: "Biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Hiruk Pikuk Membela Tuhan (Oleh : Amiruddin Faisal)

Di tengah hiruk pikuk pertempuran antara agama dengan dalih membela Tuhan !
Aku bertafakur mengadu di pangkuan tuhanku dan bertanya kepada tuhan ku yang Maha Rahman , yang Maha Rahim !
Gusti.....Mengapa pesan-MU dalam tekstual kitab agama di jadikan standar rasional manusia utk menindas yang tak se iman, bukankah perbedaan itu adalah rahmatmu wahai tuhanku ? dan tak jarang kulihat haluannya bermuatan politik.
Aku frustasi Gusti......aku melihat mereka yg membela tuhanya dengan menghalalkan darah sesama manusia. Dari situlah timbul ke gelisahan spritual.Naluri rasio yg ingin bebas dari dentuman senjata pun berbisik.

Dapatkah aku menumakan tuhanku tanpa agama ?
Aku mencari referensi di dalam teks agama yg saat itu aku imani ternya yangta.
Aku menemukan sosok nabi ibrahim as yg berusaha mencari tuhannya dan dia dapat menumukan tuhan tanpa ada bantuan teks kitab suci (agama) .Kemudian saat itu juga aku memutuskan untuk mencari tuhan tanpa agama ! Instrumen apa yg aku kendarai untuk mencarimu wahai Tuhanku ?
Begitu banyak kejadian-kejadian yang terjadi didalam kehidupan masyarakat, kejadian yang bukan saja menuju kepada bangsa yang berbudaya tinggi tetapi menuju kepada yang primitive, dimana akal sehat dan budaya sudah kalah dengan anarkisme dan fundamentalis. Sungguh membuat hati terpaku dan terpana, ketika seakan-akan bahwa bangsa kita kehilangan jatidirinya.
Pertanyaan yang selalu saja muncul dalam sejarah perjalanan agama-agama adalah untuk siapakah sebenarnya agama itu “dibuat”? Apakah Tuhan itu gila hormat, padahal Ia Maha segalanya ?
Apakah Tuhan adalah ibarat seorang raja, yang memiliki “kerajaan agama” sehingga perlu dibela dari berbagai rongrongan terhadap kekuasaan Sang Tuhan itu?
Kalau memang toh demikian, mengapa Tuhan yang Maha segalanya itu masih perlu dibela?
Apakah Nabi-Nya juga butuh penghormatan dari kita bila Tuannya saja tidak, apakah Nabi-Nya meminta kita untuk rela mati untuk ia, menghancurkan dan merusak orang-orang tidak bersalah demi kehormatan Nabi, jikalau Tuan dari Nabi tersebut bahkan tidak minta di bela ?
Sebuah pertanyaan mendasar kita adalah apakah kadar keimanan seorang umat kepada Tuhannya dinilai dari sebuah tindakan anarkis yang intoleransi terhadap masyarakat sekitarnya yang bahkan tidak tahu menahu tentang apa yang sedang ia bela?
Dalam kenyataan sejarah yang selalu terjadi berulang kali, bahwa agama sama sekali memang tidak dapat steril dari berbagai hasrat dan kepentingan manusiawi, sehingga dalam titik-titik tertentu agama kerap kali ditunggangi, demi interest dari kelompok tertentu.
Agama menjadi semacam legitimasi sikap politis dari kepentingan suatu kelompok.
Nama Tuhan, yakni “Sang Penguasa Agama”, dibawa-bawa ke sana kemari, mirip sebuah barang dagangan bahkan cenderung menjadi berdagang kelas asongan. Kalau sudah demikian kejadiannya, apakah yang terjadi sebenarnya bukan merupakan reduksi terhadap nilai luhur dari misi agama itu sendiri?
Ketika saya membaca buku Gus Dur, "Tuhan Tidak Perlu Dibela.” Ada kesan yang cukup kuat akan suatu kekhawatiran terjadinya perselingkuhan agama dan modifikasi nya dengan sebuah kepentingan politik kelompok tertentu–yakni dengan mengatasnamakan agama, atau bahkan Tuhan–sehingga akhirnya melahirkan suasana politik kekerasan atau kekerasan politik dengan dalih agama.
Dengan membaca pemikiran Gus Dur dalam bukunya tersebut,kita tidak usah dengan lantang membela Tuhan yang diserukan pada tubuh, yang kurang lebih kita didorong untuk ber semangat menyadarkan kembali akan hakikat keberagamaan manusia.
Agama pada masa awal kelahirannya selalu merupakan koreksi atas kecelakaan sejarah yang menindas manusia sekaligus martabat kemanusiaannya. Tetapi, perkembangan sejarah justru cenderung mengebiri watak profetis dari agama itu sendiri, sehingga lahirlah praktik-praktik kekerasan dengan suatu pengawalan dari patron (kekuasaan) politis.
Hal ini terjadi karena akibat dari perilaku kaum fundamentalis agama yang berakar pada fanatisme yang sempit dan dangkal.
Pada orang-orang semacam ini, kesadaran pluralisme sama sekali diabaikan.
Sebagai suatu instrumen dalam formasi non-diskursif–dalam istilah Michel Foucault–agama lalu melakukan represi terhadap berbagai nalar yang liar dengan ditopang oleh suatu tafsir tunggal terhadap formasi diskursif dari agama itu sendiri, yakni teks suci. Hal inilah yang kemudian melahirkan suatu pemandangan paradoks dalam sejarah agama-agama.
Agama yang mula-mula hendak menghidupkan martabat kemanusiaan justru menjadi pisau pembunuh kemanusiaan itu sendiri. Tiap kali ada orang yang mati-matian membela agamanya—Tuhannya—dan menyerang agama ataupun sekte lain sebagai sesat, kafir, dlsb-nya. Tentunya saya sangat jengah dengan orang-orang model ini, walau mestinya mereka seiman dengannya. Sungguh saya sangat Heran. Hmm...Kok mesti dengan kekerasan membela Tuhan? Dengan bakar-bakar? Dengan gebuk-gebukan?Ngamuk -ngamukan? Sweaping -sweapingan dengan pekikan yang mendaki ndakik. Padahal, “Tuhan tak perlu dibela”. Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada.
Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.” Bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia “menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.
Memang benar Islam perlu dikembangkan, tapi tidak untuk dihadapkan kepada menyerang keyakinan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka ia pun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.
Gus Dur sangat tidak sepakat dengan politik pengatasnamaan Tuhan dalam laku politik umat Islam yang telah seringkali terjadi dalam sejarah politik Islam Indonesia. Alasannya sederhana saja: sebab Tuhan yang dibawa di situ adalah Tuhan-yang-berada-dalam-wacana, bukan Tuhan-yang-berada-di-luar-sana. Because the Truth is out there. Kebenaran yang menjadi legitimasi dalam kasus ini sudah masuk dalam wilayah kepentingan kelompok, bukan suatu Kebenaran-Transendental.
Dalam suasana yang sedemikian rumit ini, Gus Dur lalu menjunjung tinggi semangat penggalian otentisitas peran agama dalam masyarakat melalui sebuah kreativitas berpikir. Kalau ada kelompok tertentu yang menganggapnya sebagai tindakan liar–atau bahkan murtad–bagi Gus Dur lebih baik diserahkan kepada gerak sejarah.
Klaim pembenaran terhadap diri sendiri mesti dihindari. Cukup diimbangi saja dengan informasi dan ekspresi diri yang “positif konstruktif”, dengan mendudukkan persoalan secara dewasa dan sewajarnya. Ketika saya membaca kasus pemikiran “dekonstruksionis” Ahmad Wahib atau gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid di tahun 1970-an, misalnya, Gus Dur betul-betul menghargai hal itu sebagai sebuah kreativitas manusia menghadapi tantangan zamannya. Seperti yang dilakukan Khalifah Utsman bin Affan ketika menggagas untuk mengumpulkan teks al-Qur’an yang semula berserakan; atau Imam Syafi`ie, ketika menyusun kembali metode pengambilan hukum agama dari al-Qur’an dan Hadits dengan membatalkan sejumlah metode lain yang mendahuluinya. Pun, seperti pernah dialami al-Ghazali sebelum dan sesudah menjadi sufi; al-Ghazali sebenarnya berubah dalam visi, tetapi tetap dalam keagungan ilmu karena mempertahankan hak untuk memeriksa segala teks agama melalui kemerdekaan berpikir, melalui sebuah kreativitas nalar. Di sinilah, penghargaan terhadap nilai kreativitas sebagai bentuk perjuangan (“jihad intelektual”) untuk lebih memanusiakan manusia betul-betul dijunjung tinggi.
Oh....Gusti...Allah Tuhan Yang Maha Esa,
Sifat Kasih-Nya begitu besar dan mengalir terus di kehidupan setiap makhluk-Nya. Sungguh ini merupakan pembelaan Dzat Yang Maha Besar, Kuat, lagi Perkasa. Maka sayapun tertunduk malu, menyesal, dan mohon ampunan-Nya karena saya begitu lancang mengatakan, “Sayalah pembela Allah! Sayalah pembela Agama saya!”.
Kita diajarkan dari kecil bahwa Tuhan Maha Segalanya. Andaikan semua manusia di muka bumi ini tunduk beribadah kepada-Nya, maka hal ini tidak akan menambah kesempurnaan Tuhan yang memang telah sempurna. Begitu juga sebaliknya. Andaikan semua manusia itu membangkang alias tidak patuh kepada-Nya, maka hal itu tidak akan menurunkan derajat kesempurnaan-Nya sedikit pun. Karena Dia adalah Tuhan, Maha dari Segala Maha. Pemiliki Segala Sesuatu. Maka sudah sepantasnya kalau Dia tidak perlu dibela atau tidak memerlukan pembelaan kita sebagai makhluk-Nya. Yang perlu dibela sebenarnya adalah kita, manusia. Tuhan tidak memerlukan hal itu karena Dia Maha Sempurna.
Logikanya gini. Anda adalah seorang manusia (termasuk juga saya, hehehe..).
Jika banyak orang yang memuji anda, patuh pada anda, maka secara otomatis gengsi anda naik. Anda benar-benar dikagumi. Tetapi disaat lain, ketika semua orang mencela anda, menjelekkan anda, tidak patuh lagi kepada anda, maka anda baru saja kehilangan gengsi anda di mata mereka. Begitu bukan?
Dan Tuhan bukanlah manusia. Jika Dia perlu pembelaan, berarti dia bukan tuhan tetapi manusia juga seperti kita. Tuhan sudah Maha Sempurna, dan tidak memerlukan pembelaan makhluk-Nya sedikit pun. Lalu bagaimana jika agama kita, nama Tuhan kita dihina, dicacimaki dan sejenisnya?
Apakah kita hanya diam saja hanya gara-gara kalimat “Tuhan Gak Perlu Dibela”?
Mmm… tentu tidak. Mungkin orang yang melakukan hal ini adalah dikarenakan belum memahami benar hakikat agama yang kita anut. Lebih baik kita beri pemahaman dengan cara yang baik (ma’ruf), bukan dengan cara radikal, seperti kekerasan yang membabi buta.
Agama diciptakan bukan untuk sebuah kekacauan, tetapi justru untuk kebaikan umatnya (rahmatan lil ‘alamin). Namun, jika setelah diberi pengertian, mereka masih saja ‘membandel’, maka serahkan segalanya kepada Sang Pemilik Segala, Tuhan Yang Maha Esa.
Karena hanya Dialah yang membolak-balikkan hati manusia. shollu 'alannabiy...
Lebih lanjut, semua ibadah yang kita lakukan bukanlah bertujuan untuk menaikkan derajat kesempurnaan Tuhan, tetapi sebenarnya untuk kita sendiri. Tuhan, hakikatnya bukan memerlukan kita untuk menyembah-Nya, tetapi manusialah yang perlu untuk menyembah-Nya. Semua amal ibadah kita akhirnya akan kembali pada diri kita sendiri, bukan untuk Tuhan.
Makanya ada surga dan neraka yang sengaja dipersiapkan untuk umat manusia di akhirat kelak. Manifestasi ibadah yang kita lakukan hendaknya merupakan sebuah bentuk rasa syukur kita kepada-Nya. Semacam ungkapan terima kasih kepada sang Maha Pencipta karena telah diberi nikmat yang begitu banyak. Maka tidaklah salah jika ada ungkapan yang mengatakan kalau ibadah bukanlah sebuah kewajiban, tetapi merupakan sebuah kebutuhan yang harus kita prioritaskan, seperti halnya kebutuhan primer manusia.
Maka tak jarang dalam kisah-kisah sufistik, begitu banyak para sufi yang rela meninggalkan “dunia” hanya untuk menikmati kelezatan beribadah kepada-Nya. Sekali lagi, kita hanyalah manusia, makhluk yang lemah di hadapan Tuhan Yang Maha Sempurna. Dia tak perlu dibela karena Dia Maha Kuasa. Pembelaan yang kita lakukan kepada-Nya hanyalah merupakan suatu bentuk manifestasi ibadah yang akan kembali untuk diri kita sendiri.
Maka masih pantaskah kita angkuh dan membanggakan diri, padahal sebenarnya kita bukanlah apa-apa.
Mengutip kata al-Hujwiri:

"Bila engkau menganggap Allah itu ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ‘ia menyulitkan’ kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikatnya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya".

Wallahu A'lam 

--assighor addauly 130917

Selasa, 24 Januari 2017

Misteri Habib Muhammad As-Saqqaf (Oleh : Gus Miek)

Pada kesempatan yang lain, Gus Miek bersama Ibnu Katsir Siroj dan Nototawar pergi ke Pasuruan untuk mencari Habib Muhammad As-Saqqaf. Hari itu hari Minggu, mereka berangkat dari Tulungagung pagi-pagi. Hampir seharian berputar-putar di Pasuruan, belum juga ketemu alamatnya.

Sudah ditemukan Habib Muhamad, tetapi belum ditemukan yang bermarga As-Saqqaf. Hingga diputuskan “Pokoknya yang aneh, khariqul ‘adah dan yang jadzab!” Sayang, tetap tidak ketemu juga.

Akhirnya, satu-satunya jalan adalah bertanya kepada Kiai Hamid Pasuruan. Begitu tiba di rumah Kiai Hamid, beliau sudah menyambut di depan pintu. “Hamim, wal qur’anil hakim,” sapa Kiai Hamid sambil memeluk Gus Miek dan membimbingnya masuk. Di dalam rumah, Kiai Hamid menghadiahi kain sarung Samarinda berwarna hijau kepada Gus Miek. Ini Gus, saya beri sarung, silakan salat dulu,” kata Kyai Hamid.

Gus Miek dan kedua pengikutnya kemudian menuju ke masjid. Ketika saatnya mendirikan salat, Gus Miek hilang dari pandangan. Dicari-cari tetap tidak ketemu. Akhirnya, keduanya salat kecuali Gus Miek, tetapi begitu mengucapkan salam, ternyata Gus Miek sudah duduk bersila di sebelah Katsir. Sehabis salat, keduanya menemui Kiai Hamid.

“Wah, Gus, sampean telat. Tadi malam, tepat malam Jumat, saya khataman Riyadh as-Shalihin dan didatangi Kanjeng Nabi,” kata Kiai Hamid. Gus Miek hanya tersenyum. Kiai Hamid kemudian berdiri mengambil sesuatu di atas sebuah jam besar, lalu mengulurkan tangannya kepada Gus Miek dan kedua pengikutnya. K.H. Hamid menyuruh Gus Miek mengambil satu, demikian juga dengan yang lain, lalu kemudian memintanya kembali.

Gus Miek, yang tadinya mengambil biji koro yang berada di tengah, ketika mengembalikan biji itu ke telapak tangan Kiai Hamid berubah menjadi batu akik, sementara yang lain masih tetap berupa biji koro. Kemudian Kiai Hamid mengembalikannya kepada masing-masing. Kepada Ibnu Katsir, Kiai Hamid berpesan agar biji itu ditanam dan kelak bila sudah berbuah Kiai Hamid akan datang berkunjung ke rumahnya.

Ketiganya lalu berpamitan dan segera mencari rumah Habib Muhamad As-Saqqaf sebagaimana petunjuk Kiai Hamid. Ternyata, rumahnya tidak jauh dari ndalem Kiai Hamid.

Setelah ketiganya tiba di rumah Habib Muhamad As-Saqqaf dengan suara yang keras dan lantang tiba-tiba Habib bertanya, “Dari mana?” “Dari Kediri,” jawab Gus Miek. “Mau Apa?,” tanya Habib.

“Mau minta doa salawat,” jawab Gus Miek. “Apa belum salat? di dalam salat kan banyak salawat dan banyak doa,” jawab Habib. Lalu Habib berdiri menjalankan salat. Akan tetapi, urut-urutan salat yang dijalankannya kacau balau dalam tinjauan fikih.

Usai salat, Habib mengambil ceret berwarna keemasan dengan satu gelas besar dan tiga cangkir kecil. Habib menuangkan kopi jahe khas Arab, lalu memberikan yang paling besar kepada Gus Miek dan disuruh menghabiskannya.

Begitu Gus Miek meminum habis isi gelas besar itu, Habib kembali menuangkan sampai penuh, kembali Gus Miek menghabiskan. Kejadian tersebut terus berulang sehingga kedua pengikut Gus Miek menjadi keheranan, bagaimana mungkin ceret sekecil itu mempunyai isi yang sedemikian banyak, dan betapa kasihan Gus Miek harus meneguk minuman yang tidak enak di lidah dan di perut itu sedemikian banyak, meski demikian seolah-olah Gus Miek tidak merasakan apa-apa.

Setelah puas saling membuktikan “kemampuannya”, Habib As-Saqqaf meminta Gus Miek berdoa dan beliau mengamininya.

Gus Miek dan Kiai Ahmad Shiddiq Jember

Suatu ketika, rombongan keluarga K.H. Ahmad Shiddiq yang tengah khusyuk ziarah di makam Sunan Ampel terganggu oleh kedatangan rombongan Gus Miek yang terdiri dari berbagai latar belakang sosial.

Rombongan yang cukup banyak itu sedikit gaduh sehingga mengusik rombongan yang lain, termasuk rombongan K.H. Ahmad Shiddiq. Melihat rombongan Gus Miek yang campur-aduk dan gaduh itu K.H. Ahmad Shiddiq menyingkir lalu melanjutkan perjalanan ke Pasuruan menemui Kiai Hamid Pasuruan yang masih merupakan kerabatnya.

K.H. Ahmad Shiddiq bercerita kepada Kiai Hamid bahwa dirinya telah bertemu dengan Gus Miek dan rombongannya saat ziarah di makam Sunan Ampel. “Ya… Pak Kiai, begini, Gus Miek itu di atas saya,” jawab Kiai Hamid setelah mendengar pengaduan K.H. Ahmad Shiddiq.

“Ah, masak?” tanya K.H. Ahamd Shiddiq tidak percaya karena Kiai Hamid sudah sangat masyhur kewaliannya di kalangan ulama Jawa. “Saya itu tugasnya ‘sowan’ kepada para kiai. Kalau Gus Miek itu tugasnya kepada bromocorah (bajingan),” jawab Kiai Hamid.

K.H. Ahmad Shiddiq hanya diam saja mendengarkan dan penuh keraguan. “Benar, Pak Kiai. Gus Miek itu tugasnya kepada para bromocorah, para pemabuk, penjudi, perempuan nakal, dan orang-orang awam. Untuk tugas seperti itu saya tidak sanggup,” tegas K.H. Hamid.

Setelah mendengar jawaban Kyai Hamid, K.H. Ahmad Siddiq dengan perasaan yang berkecamuk langsung berangkat ke Ploso menemui K.H. Djazuli (Ayahnya Gus Miek) untuk mengadukan jawaban K.H. Hamid tersebut.

“Begini, Kiai Ahmad, saya dengan Gus Miek itu harus bagaimana?! Dulu, Kiai Watucongol (Mbah Dalhar) juga menceritakan kehebatannya Gus Miek. Saya jadinya hanya bisa diam saja,” jawab K.H. Djazuli.

Diceritakan juga, K.H. Ahmad Shiddiq pernah mengadu kepada Kiai Hamid tentang sepak terjang Gus Miek dan para pengikutnya karena kebetulan K.H. Ahmad Shiddiq juga sering ke Tulungagung, di rumah mertuanya, sehingga ia sering menyaksikan hal yang ganjil.

“Begini Pak Kiai, sampeyan kalau baik dengan saya, berarti juga harus baik dengan ‘sana’ karena ia kakakku. Sampean buka saja kitab ini halaman sekian,” jawab Kiai Hamid. Akhirnya, K.H. Ahmad Siddiq pulang dan membuka kitab yang telah sering dibacanya. K.H. Ahmad Shiddiq pun menjadi mengerti maksud dari kitab itu dan kaitannya dengan laku Gus Miek.

Diceritakan juga Ketika Gus Miek masih berusia 9 tahun, Gus Miek sowan ke rumah Gus Ud (K.H. Mas’ud) Pagerwojo, Sidoarjo. Gus Ud adalah seorang tokoh kharismatik yang diyakini sebagai seorang wali.

Dia sering dikunjungi olah sejumlah ulama untuk dimintai doanya. Di rumah Gus Ud inilah untuk pertama kalinya Gus Miek bertemu K.H. Ahmad Siddiq, yang di kemudian hari menjadi orang kepercayaannya dan sekaligus besannya.

Saat itu, K.H. Ahmad Shiddiq masih berusia 23 tahun, dan tengah menjadi sekretaris pribadi K.H. Wahid Hasyim yang saat itu menjabat sebagai menteri agama. Sebagaimana para ulama yang berkunjung ke ndalem Gus Ud, kedatangan K H. Ahmad Shiddiq ke ndalem Gus Ud juga untuk mengharapkan do’a dan dibacakan Al-Fatihah untuk keselamatan dan kesuksesan hidupnya.

Tetapi, Gus Ud menolak karena merasa ada yang lebih pantas membaca Al-Fatihan. Gus Ud kemudian menunjuk Gus Miek yang saat itu tengah berada di luar rumah. Gus Miek dengan terpaksa membacakan Al-Fatihah setelah diminta oleh Gus Ud.

K.H. Ahmad Shiddiq, sebelum dekat dengan Gus Miek, pernah menemui Gus Ud untuk bicara empat mata menanyakan tentang siapakah Gus Miek itu. “Mbah, saya sowan karena ingin tahu Gus Miek itu siapa, kok banyak orang besar seperti Kiai Hamid menghormatinya?” tanya K.H. Ahmad Siddiq.

“Di sekitar tahun 1950-an, kamu datang ke rumahku meminta do’a. Aku menyuruh seorang bocah untuk mendoakan kamu kan. Itulah Gus Miek. Jadi, siapa saja, termasuk kamu, bisa berkumpul dengan Gus Miek itu seperti mendapatkan Lailatul Qadar,” jawab Gus Ud.

Begitu Gus Ud selesai mengucapkan kata Lailatul Qodar, Gus Miek tiba-tiba turun dari langit-langit kamar lalu duduk di antara keduanya. Sama sekali tidak terlihat bekas atap yang runtuh karena dilewati Gus Miek. Setelah mengucapkan salam, Gus Miek kembali menghilang. Subhanallah.

Terawangan Gus Miek (Oleh : Gus Dur)

Mantan Presiden RI ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid yang sangat akrab dan menaruh hormat kepada Gus Miek pernah mengisahkan kejadian menarik tentangnya.

Di beranda sebuah surau di Tambak, Mojo, Ploso, Kediri, Gus Dur berhasil menemui Gus Miek. Tadinya, sebelum sampai di surau itu, Gus Dur membuntuti mobil yang ditumpangi Gus Miek dari kejauhan.

Setelah membelok ke barat dan kemudian ke utara melalui pararel, akhirnya mobil itu berhenti di depan surau itu. Dan ketika Gus Dur sampai di surau itu, Gus Miek sudah meninggalkan mobilnya, sudah berada di dalam surau.

Dari beranda surau, Gus Miek menunjuk sebidang tanah yang bersebelahan dengan pekarangan surau. “Di situ nanti Kiai Ahmad akan dimakamkan. Demikian juga saya. Dan nantinya sampeyan,” kata Gus Miek kepada Gus Dur.

Dikatakan Gus Miek bahwa tanah itu sengaja dibelinya untuk pemakaman para penghafal Alquran. Gus Dur mengatakan kepadanya bahwa dirinya bukan penghafal Alquran. Gus Miek menjawab,”Bagaimana pun sampeyan harus dikuburkan di situ.”

Belakangan diketahui bahwa Kiai Ahmad yang dimaksudkan oleh Gus Miek dalam obrolan dengan Gus Dur itu adalah K.H. Ahmad Shiddiq, mantan Rais Aam PBNU yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah Jember.

Kabar akan berpulangnya K.H. Ahmad Shiddiq bahkan dikemukakan oleh Gus Miek kepada Gus Dur sebulan sebelum kewafatannya. Waktu itu, Gus Miek memberi isyarat kepada Gus Dur agar NU mempersiapkan calon Rais Aam baru, padahal waktu itu K.H. Ahmad Shiddiq masih menjabat Rais Aam masih sehat.

Belakangan juga diketahui bahwa Gus Dur tidak dimakamkan di tempat yang Gus Miek tunjukkan karena sebelumnya sudah ada amanat dari K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. A. Wahid Hasyim, kakek dan ayahnya Gus Dur, agar Gus Dur beristirahat di Tebuireng bersama mereka berdua tepat seminggu sebelum wafatnya Gus Dur. Ternyata pengakuan Gus Dur bukan sebagai penghafal Alquran mengungguli terawangan Gus Miek.

Gus Miek dan Kiai Hamid Pasuruan

Gus Miek dalam usia 9 tahun sudah pernah ke pasuruan untuk mengunjungi Kiai Hamid. Ini adalah sebuah pertemuan pertama yang sangat mengharukan. Saat itu Gus Miek telah beberapa hari tinggal di pondok Kiai Hamid.

Selama itu pula Gus Miek tidak pernah menjalankan salat. Ia hanya tidur saja sepanjang hari. Oleh Kiai Hamid, Gus Miek kemudian dibangunkan dan dimarahi agar menjalankan salat. Gus miek lalu bangun, tetapi bukan untuk menjalankan salat melainkan membaca perjalanan hidup Kiai Hamid dari awal hingga akhir, termasuk mengenal kelebihan dan kekurangannya.

Kiai Hamid pun terkejut, kemudian memeluk Gus Miek dengan berurai air mata. Sejak saat itu, Kiai Hamid sangat menyayangi Gus Miek dan memerintahkan semua muridnya agar apa pun yang dilakukan Gus Miek dibiarkan saja, bahkan kalau bisa dilayani semua kebutuhannya.

Setelah dewasa, pasca kekacauan akibat pemberontakan PKI mulai reda, Gus Miek dalam perkembangan dakwahnya mulai memasuki wilayah Pasuruan. Pertama kali masuk wilayah tersebut, Gus Miek menuju rumah Kiai Hamid yang dikenal sebagai waliyullah. Saat hendak naik mobil, dari Malang, Gus Miek mengirim bacaan Al-Fatihah kepada Kiai Hamid. Selama dalam perjalanan, Gus Miek hanya diam saja sehingga para pengikutnya pun ikut diam membisu.

Tiba-tiba di pekarangn ndalem Kiai Hamid, Gus Miek tidak langsung bertemu, tatapi hanya mondar-mandir di jalan. Setelah beberapa lama, Gus Miek mengajak salat di masjid, dan Gus Miek menjadi imam. Setelah salam, ada seorang laki-laki yang menyentuh pundak Amar Mujib dan bertanya.

“Maaf, orang itu apakah Kiai Hamim?” Amar mengangguk.
“Gus, nanti tidur di sini, ya? Nanti saya potongkan ayam, dan tidur dengan saya satu rumah,” kata lelaki itu yang ternyata adalah Kiai Hamid.

Ternyata Kiai Hamid tidak mengenali Gus Miek yang duduk-duduk dan mondar-mandir di pekarangan karena penampilan Gus Miek sudah sangat jauh berbeda dengan saat ketika ia sering mengunjunginya belasan tahun silam. Saat itu, Gus Miek masih muda dengan pakaian lusuh dan rambut gondrong. Pertemuan pertama Gus Miek dengan Kiai Hamid saat Gus Miek berusia sekitar 9 tahun.

Dikisahkan juga suatu hari Gus Miek bertamu ke rumah Kiai Hamid. Keduanya asyik berbincang tanpa memedulikan tamu-tamu yang lain. Puluhan tamu menunggu untuk sowan ke Kiai Hamid, tetapi tidak dipedulikan sampai akhirnya datang Kiai Dhofir.

“Mid, Hamid!” Kiai Dhofir memanggil. Gus Miek terlihat sangat marah, mukanya merah padam, matanya tajam menatap Kiai Dhofir. Gus Miek dengan tergesa-gesa pamit pulang. Dalam perjalanan, Gus Miek dengan nada emosi berkata, “Masya Allah, siapa tamu tadi, kok tidak punya tata karma!” “Mungkin karena Kiai Hamid keponakannya,” Amar menanggapi emosi Gus Miek.

“Walaupun keponakannya, saya tidak terima. Kiai Hamid itu kiai dan juga termasuk wali,” jawab Gus Miek masih dalam keadaan emosi. Setelah emosinya mereda, Gus Miek berkata, “Mar, kata Kiai Hamid, wali di sini yang paling tinggi adalah Husein, orangnya hitam. Tetapi, wali Husein berkata bahwa wali yang paling tinggi di sini adalah Kiai Hamid.”

Gus Miek dan Tiga Preman Tanjung Priok

Ustaz Suhaimi bercerita pada suatu hari di bilangan Tanjung Priok pada tahun 1996 ada tiga preman yang kerjaannya memalak setiap truk kontainer yang masuk pelabuhan. hasil palakannya digunakan untuk mabuk-mabukkan, main perempuan atau berjudi.

Hingga pada suatu hari datanglah seorang pria mengenalkan dirinya bernama Gus Miek. Lantas pria itu ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal, mulai dari masalah politik, ekonomi hingga menyentuh masalah agama.

Begitu lembut dan inteleknya pria itu berbicara, hingga akhirnya ketiga preman itu mulai tertarik dengannya. Apalagi pria itu orangnya asyik diajak gaul ala preman dan suka mentraktir makan, minum dan rokok.

Hingga akhirnya masuk waktu salat Zuhur, lantas Gus Miek mengajak ketiga preman itu untuk ikut salat. Pada mulanya mereka menolak, tapi Gus Miek merayunya dengan iming-iming barangsiapa yang mau salat dengannya, maka akan dikasih uang Rp. 50.000 (Uang segini besar pada waktu itu). Maka walaupun terpaksa akhirnya ketiga preman ini mau ikut salat di belakang Gus Miek, tentu saja niatnya demi mendapat uang.

Begitulah setiap waktu salat, pasti mereka salat berjamaah bersama teman barunya, Gus Miek. Kejadian ini berlangsung hingga 3 bulan lamanya. Hingga pada akhirnya ada kesadaran tersendiri bagi tiga preman itu untuk salat, apalagi Gus Miek juga mengajarkan masalah agama yang selama ini belum pernah mereka dengar.

Dan memasuki bulan keempat, Gus Miek sudah tidak menemui tiga preman tersebut. Tentu saja mereka kalang kabut, karena sudah terbiasa salat berjamaah bersama Gus Miek. Mulai ada kerinduan dari ketiga preman itu akan sosok pria misterius yang selama ini selalu mengajak mereka kepada kebaikan dan mengajarkan mereka tentang masalah agama.

Rupanya tingkah mereka menarik perhatian Ustaz Suhaimi yang ketika itu baru pulang dari acara Maulid di Masjid Luar Batang. Lalu sang ustaz menghampiri mereka di teras masjid dan menanyakan banyak hal. Kemudian 3 preman itu bercerita tentang perjumpaan mereka dengan seorang pria misterius yang membuat mereka akhirnya mulai mendalami masalah agama.

Betapa kagetnya Ustaz Suhaimi ketika mendengar nama Gus Miek disebut oleh mereka. Lantas sang ustaz yang saat itu membawa buku saku tentang Dzikrul Ghofilin memperlihatkan foto seorang ulama kepada ketiga preman itu, “Apakah pria misterius itu seperti orang ini?”

Dengan nada heran, preman itu menjawab, “Iya benar. Apakah Ustaz kenal dengan dia?” Ustaz Suhaimi menjawab, “Bukan kenal lagi. Ini guru saya. Beliau seorang ulama besar yang merupakan waliyullah. Beliau sudah wafat 3 tahun yang lalu.”

Seperti tersambar petir, terkejut bukan kepalang tiga preman ini mendengar penjelasan Ustaz Suhaimi. Jadi selama ini mereka mendapat pencerahan dari seorang ulama besar, waliyullaah terkenal, yang sudah lama wafat.

Menangislah mereka sambil menciumi tangan Ustaz Suhaimi sambil menyatakan keinginan mereka untuk bertobat dan meminta beliau mau mengajari mereka tentang masalah agama. Akhirya sang ustaz pun menyanggupinya dengan berurai air mata.