Jumat, 20 Mei 2016

Kisah KH Abdul Karim Lirboyo Jadi Kuli Santri Barunya (Oleh : KH Ahmadi, Ngadiluweh dan almaghfurlah KH. A. Idris Marzuki )

Kisah KH Abdul Karim Lirboyo Jadi Kuli Santri Barunya

Pelajaran tentang Kesederhanaan dan rendah Hati Seorang Pemimpin

Ketika krisis keteladanan melanda generasi suatu bangsa maka menjadi begitu penting membaca dan mengenang kembali para tokoh yang dahulu dikenal memiliki karakter, akhlak, dan kepribadian yang terpuji nan luhur serta patut diteladani generasi sesudahnya. Di antara tokoh dimaksud yang memiliki sejarah hidup mulia dan perlu dikenalkan kepada generasi muda adalah akhlaknya para kiai, di samping tokoh-tokoh pahlawan bangsa.

Pada suatu hari (diperkirakan tahun 1920-an) datanglah seorang pemuda yang baru turun dari dokar di dekat area pondok. Dia membawa perbekalan lumayan banyak dari rumah, sehingga merasa berat untuk dibawanya sendiri. Kemudian pemuda calon santri baru itu melihat ada orang tua yang sedang berkebun. Versi lain mengatakan sedang memperbaiki pagar tembok. Melihat didekatnya ada orang tua, pemuda itu bertanya dengan bahasa Jawa halus:  

"Pak, anu, kulo saumpomo nyuwun tulong kaleh njenengan, nopo nggeh purun? (Begini, Pak, seumpama saya minta tolong anda, apa berkenan)?” Tanya pemuda itu. 

"Nggeh, nopo!" Jawab orang tua di kebun itu.

"Niki kulo mbeto kelopo, beto beras, kulo bade mondok teng kilen niko. Tulong jenengan beta'aken (Ini saya membawa kelapa dan beras. Saya mau mondok di barat itu. Tolong anda bawakan),” pinta pemuda tersebut.

"Oh, nggeh mas, kulo purun (Ya mas, saya mau),” balas orang tua.

Lalu dengan senang hati orang tua itu membantu membawakan bekal berupa beras dan kelapa milik pemuda tadi sampai di kompleks kamar santri. Para santri lama yang menyaksikan peristiwa itu terheran-heran: kiainya mengangkatkan barang milik calon santri barunya. 

Akhirnya betapa malunya pemuda santri baru tersebut setelah mengetahui ternyata orang yang kemarin dia perintah membantu membawakan barang perbekalannya itulah yang menjadi imam shalat di masjid. Ternyata orang yang mengimami shalat tersebut adalah kiai pengasuh pesantren. Karena kesederhanaan penampilannya, sang pengasuh pesantren disangka orang desa atau petani kampung yang sedang bekerja. 

Orang yang membantu mengangkatkan barang pemuda calon santri di atas adalah KH. Abdul Karim, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. (M Haromain)  

Fragmen kisah ini disarikan dari arsip wawancara dengan para alumni Pesantren Lirboyo oleh tim penyusun buku 
Sejarah Pesantren Lirboyo (2010); Lebih khususnya narasumber cerita ini adalah KH Ahmadi, Ngadiluweh dan almaghfurlah KH. A. Idris Marzuki.  

Jumat, 22 April 2016

Gus Mus dan Cak Nun : Panutan Yang Tidak Ambisi Jabatan (Oleh : Ayah Debay)

Gus Mus dan Cak Nun; Panutan yang Gak Ambisi Jabatan.
Oleh : Ayah Debay

Gus Mus dan Cak Nun adalah dua kyai sepuh yang dikeramatkan di kalangan nahdliyyin, setara dengan almarhum Gus Dur. Gus Mus semasa muda adalah santri paling cerdas di pesantrennya. Beliau biasa tidur sewaktu rapat para santri, dan baru dibangunkan kalau ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Seperti lazimnya santri Ponpes Lirboyo, Gus Mus muda senang mempelajari ilmu kanuragan, sehingga rambutnya saja yang sanggup memotong adalah bapaknya sendiri (dan tentu sambil dimarah-marahi).

Cak Nun semasa muda karakternya seperti tokoh wayang Bima; terlalu jujur pada keadaan. Sewaktu masih SD, beliau menendang kaki gurunya sendiri, karena tidak terima temannya yang dimarahi melampaui batas. Sewaktu jadi santri, beliau menghajar seniornya yang kurang ajar, sehingga langsung dikeluarkan.
Baik Gus Mus atau Cak Nun, keduanya sekarang adalah juara di bidangnya masing-masing. Gus Mus meski menolak menjadi Ra'is 'Aam PBNU tetapi sejatinya selalu memposisikan sebagai pemimpin dan panutan ribuan ulama dan puluhan juta nahdliyyin. Meski demikian, beliau lebih suka dipanggil "gus" (orang yang belum pantas disebut kiyai) dan digelari budayawan.

Sedangkan untuk Cak Nun, meski beliau tidak punya gelar akademik apapun, beliau adalah rujukan kebanyakan profesor dan doktor di Tanah Air. Emha Ainun Nadjib adalah "cendekiawan paling cendekiawan" di Indonesia. Bahkan, saat genting Reformasi 1998, salah satu orang yang dimintai nasehat oleh Pak Harto dan para panglima tentara adalah Cak Nun, karena selain beliau sangat cerdas, beliau adalah manusia tanpa ambisi.
Seandainya Walisongo ada di zaman sekarang, bisa jadi beliau berdua dimasukkan dewan wali nusantara tersebut seperti halnya Gus Dur.

Semoga Gus Mus dan Cak Nun selalu dianugerahi kesehatan dan panjang umur sehingga bisa istiqamah dan ikhlas mengayomi kita semua.
Amin..

Ditulis oleh : Ayah Debay
Profile : https://www.facebook.com/liebedich.iev?fref=nf
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

Minggu, 17 April 2016

Indonesia Mampu Redam Perekrutan ISIS Berkat Peran NU. (Oleh : Ayah Debay)

Indonesia Mampu Redam Perekrutan ISIS Berkat Peran NU.

Jumlah warga Indonesia yang bergabung dengan kelompok negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) relatif lebih sedikit dibandingkan negara mayoritas Muslim lainnya.
Dilansir dari The Atlantic, berdasarkan laporan dari kelompok Soufan, warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS hanya 700 orang. Bahkan medio November lalu, The New York Times menulis, alasan Indonesia mampu meredam perekrutan ISIS adalah adanya organisasi IslamNahdlatul Ulama (NU).



Organisasi yang memiliki 50 juta anggota ini mengajarkan Islam yang welas asih, inklusif dan memiliki sikap toleransi antar umat beragama. Islam berbeda dengan ISIS yang terinspirasi dari wahabi.
"Kami menentang ideologi ISIS, bahwa seluruh manusia harus Islam, yang berarti jika ada ideologi lain di luar Islam dan tidak mengikuti ideologi mereka, maka orang-orang tersebut kafir dan harus dibunuh," ujar Sekjen PBNU Yahya Cholil Staquf, beberapa waktu lalu.


Sementara itu, Direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik Sidney Jones sepakat bahwa NU telah memainkan peran dalam meminimalkan perekrutan anggota ISIS di Indonesia.
"Gerakan tersebut memang sebuah benteng bagi mereka yang ingin bergabung dengan ideologi ekstremis,"ujar Jones.

Ditulis ulang oleh : Ayah Debay
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

Sabtu, 16 April 2016

ISLAM NUSANTARA BUKAN AJARAN, FAHAM DAN MAZHAB (Oleh :Amirudin Faisal)

AYO BUDAYAKAN SINAU
ISLAM NUSANTARA BUKAN AJARAN, FAHAM DAN MAZHAB

Sebagai sebuah corak keberagamaan yang bercita-cita untuk menjadi role model kiblat Islam rahmatan lil’alamin di dunia, Islam Nusantara tentu masih sangat memerlukan kritik. Kritik adalah salah sebuah sarana untuk meneguhkan Islam Nusantara secara konseptual. Karena tanpa kritik, kita tidak akan bisa mendeteksi sejauh mana penerimaan masyarakat terhadap term yang mendadak nge-pop akhir-akhir ini.
Namun tampaknya, semakin Islam Nusantara mengudara, betul bahwa ada adagium yang mengatakan semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpa, rupanya Islam Nusantara pada perjalanannya bukan cuma diterpa oleh berbagai kritikan, tetapi juga berbagai tanggapan sarkastis dan propaganda negatif sebagai sebuah paham yang dituding sesat dan menyesatkan.

Ironisnya, hal ini bukan hanya berasal dari kalangan yang belum paham atau memang awam mengenal istilah ini. Akan tetapi juga datang dari berbagai tokoh populis seperti Mamah Dedeh –mamahnya ibu-ibu pengajian televisi, Habib Rizieq Shihab – Pucuk Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) , Dokter Hamid Fahmi Zarkasyi–maha guru yang menjadi referensi baku kawan-kawan kajian INSISTS, sampai selebritas twitter Hafidz Ary yang mencitrakan diri sebagai murobbi-nya gerakan Indonesia Tanpa JIL.
"Tanpa tedeng aling-aling, di depan jamaah pengajian subuh dan disaksikan oleh seluruh pemirsa ANTV suatu pagi, Mamah Dedeh mengatakan “Coret Islam Nusantara” yang secara otomatis statemen beliau tersebut langsung dikutip dan disebar-luaskan oleh media-media yang notabene sempat masuk list BNPT sebagai media “radikal”. Lebih ekstrem lagi, Habib Rizieq tampak niat banget untuk menghantam Islam Nusantara ini hingga beliau meluangkan waktu untuk membuat propaganda di media bahwa JIN (Jemaat Islam Nusantara – istilah yang sesungguhnya beliau bikin sendiri) adalah sebuah gerakan yang harus ditumpas eksistensinya di negeri ini lantaran pahamnya sesat dan menyesatkan, lengkap dengan pointer-pointer yang beliau inventarisir sebagai dalil atau dalih bahwa Islam Nusantara ini memang sesat. Ah yang beneer?"
Sebagai sebuah tulisan populer, saya ingin mengajak segenap pembaca untuk terlebih dahulu merenggangkan urat saraf masing-masing sebelum lebih jauh menyimak. Saya hanya ingin menggaransi terlebih dahulu bahwa tulisan ini nantinya tidak akan se-galak artis twitter bernama Hafidz Ary yang dengan serampangan mengatakan bahwa corak Islam Nusantara yang dirintis para ulama dan segenap awliyaa di negeri ini adalah produk rintisan kaum Islam Liberalis. Hafidz semacam melakukan jurus mabuk hingga pura-pura lupa bahwa liberalisme Islam di negeri ini adalah gerakan yang nge-pop belakangan bahkan tergolong impor, atau bahasa kerennya biasa disebut transnasional. Sedangkan Islam Nusantara adalah corak keberagamaan yang telah lama menyatu dengan urat nadi bangsa Indonesia.

Saya juga akan berusaha untuk tidak menjadi se-gegabah ustadz beken bernama Felix Siauw yang mengatakan bahwa “Nasionalisme tidak ada dalam Islam”, lalu kemudian kepleset lidah berfatwa menghalalkan VCD bajakan karena “segala sesuatu di dunia ini milik Allah”, lalu mengharamkan akifitas selfie dan ternyata beliau juga suka selfie, dan yang paling menggelikan adalah mengkampanyekan Hijab Syar’ie ala beliau sendiri hingga kemudian diketahui ternyata beliau juga jualan jilbab. ( Baca )
Bismillah. Akhi, don’t be amazed too much, jangan latah!, Islam Nusantara bukan paham kok, bukan pula ajaran, apalagi mazhab baru yang mencoba peruntungan untuk numpang tenar di bumi Indonesia ini. Islam Nusantara adalah model keberagamaan yang sejak lama menjadi model dakwahnya para Kyai di Jawa, para Buya di Sumatera, para Tuan Guru di Kalimantan, dan para Gurutta di Sulawesi. Islam Nusantara adalah Islam yang ketika harus berhadapan dengan The Old Establishing Beliefs– seperti Hinduisme di Indonesia, maka dengan lentur tidak menjadikan sapi sebagai hewan kurban karena sapi adalah hewan yang mulia menurut kepercayaan masyarakat Hindu. Para awliyaa kala itu paham bahwa Islam cukup selow dengan memperbolehkan kerbau dan kambing sebagai substitute animal (baca; pemain cadangan) untuk dikurbankan. Dan ini Islami banget, kok. Toh dulu juga al-Qur`an ketika melarang minum khamr juga metodenya bertahap. Awalnya dengan menyatakan bahwa di dalam khamr terdapatitsmun kabiir (dosa besar) dan jugamanaafi’ linnaas(manfaat untuk manusia), hanya saja dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu kemudian memrintahkan jangan melaksanakan shalat dalam keadaan mabuk, hingga pada akhirnya baru mengharamkan khamr secara tegas. Metode semacam ini dalam istilah Arab disebut dengan tadriijiyyan, atau step by step.
Islam Nusantara adalah Islam yang mengerti lokalitas sehingga masyarakat Islam Banjar sangat akrab dengan tradisi baaruhan, di Jawa ada tradisi slametan, bahkan muslim yang sudah meninggal dunia pun diurus sampai seratus hariannya dan diperingati setiap tahunnya. Islam Nusantara juga mengerti psikologis masyarakat untuk berkesenian hingga dikenal tradisi maulidan, barzanjian, diba’an, dan lain-lain.

Kesemua contoh di atas adalah ke-khasan tersendiri bagi corak keberislaman di Indonesia, yang jika digali lebih dalam adalah identitas kearifan lokal atau local wisdom itu sendiri. Karena sejatinya identitas inilah yang mahal, identitas ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Maka sudi lah kiranya kita belajar dari Kyai Haji Hasyim Asy’ary yang bertahun-tahun mengaji di Mekkah tapi mind set-nya tidak pernah ter-Arab-kan. Sudi pula lah kiranya kita menengok sejarah Wapres legenda kita Mohammad Hatta yang belajar di Belanda tapi tidak ter-barat-kan. Beliau bahkan masyhur dengan gagasan ekonomi koperasinya, hingga gagasan politik luar negeri Mendayung di atas Dua Karang-nya yang sampai hari ini menjadi khas kebijakan luar negeri Indonesia yang nonblock dan nonafiliate. Dan sejarah menjadi saksi bagaimana beliau tetap hidup Islami dengan sifat qana’ah-nya hingga sampai akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu bermerek Bally.
Terakhir, Islam Nusantara tidak pernah anti Arab seperti yang dituduhkan Habib Rizieq. Tapi Islam itu sendiri bukanlah Arabisme karena memang spiritnya universal. Turun sebagai agama langit (samawi), tapi eksistensinya membumi. Bahkan kalau mau jujur, para ulama, Kyai, dan Tuan Guru itu kurang ngerti Arab apa coba? Dari dulu juga buku-buku wajib di Pesantren adalah kitab-kitab berbahasa Arab. Bukan sekadar gombal dan retoris untuk menjadi Arabissampai urusan ngobrol dan ngopi saja harus menyapa dengan akhi dan ukhti.

Islam Nusantara juga tidak pernah anti-barat, karena prinsip dasarnya adalah memungut hikmah darimana pun sumbernya. Hikmah adalah milik orang Islam yang tercecer. Karenanya, Islam Nusantara sangat menghargai tradisi dan sekaligus juga terbukadengan modernitas. Kaidah fikih populernya; “al muhaafazhah alal qadiim al shaalih, wal akhdzu bil jadiid al ashlah”. Pijakan historis yang kokoh, dan kemampuan merespon masa depan dengan tangkas. Inilah yang disebut dengan prinsip, identitas, dan jati diri. Tak heran kalau kemudian mantan Presiden kita Baharuddin Jusuf habibi yang diketahuilama tinggal di Barat, toh ternyata juga tidak serta merta sepakat dengan tradisi Barat yang individualistis sampai nenek-nenek harus jauh dari cucunya karena ibunya lebih suka menitipkan anaknya di penitipan bayi. Di negara maju, kata Pak Habibi, tak pernah ada istilah ngemong cucu. Dan sebagai Profesor Jenius di bidang teknologi, ternyata ketika beliau ditanya lebih memilih makanan yang diolah oleh Food Processor atau sambal yang di-ulek, dengan tegas beliau memilih yang kedua, karena sambal yang di-ulek oleh wanita Indonesia sungguh tiada duanya. Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwatith tariieq.

Oleh : Amirudin Faisal
Admin Grup Sahabat Gus Dur

Kamis, 14 April 2016

NU dan NKRI (Oleh : KH Said Aqil Siraj)

NU dan NKRI (Oleh : KH Said Aqil Siraj)

KH. Hasyim Asy'ari merupakan tokoh yang mempunyai andil besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. KH. Hasyim Asy'ari adalah pendiri Ormas terbesar dengan jumlah anggota terbanyak di dunia, yaitu Nahdlatul Ulama. Tidak hanya sebagai tokoh agama, ia juga berperan sentral dalam mengantarkan Indonesia "menuju pintu gerbang kemerdekaan."

Menurut Prof. DR.Said Aqil Siradj,
"Kiai Hasyim Asyari jauh sebelum berdirinya NU, sebelum berdirinya NKRI sudah memiliki visi-misi yang sangat jauh.”Islam saja belum bisa menyatukan umat.” Visi yang ke depan sangat jauh, yaitu ingin mensinergikan semangat Islam dan semangat nasionalisme.” “Terbukti sekarang, Afghanistan penduduknya 100% muslim perang terus sudah puluhan tahun.,” Karena tidak punya komitmen wathoniyah, tidak punya komitmen kebangsaan, ingin menjaga keutuhan negerinya.”
Kata Hadratussyaikh: Islam saja belum bisa menyatukan umat harus diperkuat semangat wathoniyah, semangat kebangsaan.” “Nasionalisme akan menjadi nasionalisme yg kering, yg tidak punya nilai, kalau tidak diisi dengan nilai2 spirit agama.” “Bahwa NU ingin mendirikan negara darrusalam, negara yang damai, bukan negara Islam,” “Indonesia harus lahir sebagai negara kebangsaan.” 

Oleh karena itu,lanjut Kyai Said Aqil dengan tegas mengatakan;
"Barang siapa tidak punya tanah air,maka tidak punya sejarah,
Barang siapa tidak punya sejarah,maka akan terlupakan".



Islam memang agama mayoritas, rahmat Islam harusnya melintasi batas-batas.
Islam agama yang membawa kerahmatan yang bisa sejalan dengan nilai-nilai ke-Indonesia-an.
Semangat keagamaan perlu dihidupkan untuk isu kemakmuran, kesejahteraan dan perdamaian.
Kiai Hasyim Asy'ari dan para masyayikh NU bisa jadi panutan tentang Islam yang hidup di tengah perbedaan. Jika perbedaan selalu disikapi dengan kekerasan, peran apa yang bisa dilakukan agama di masa depan?.

“Menurut saya, salah satu jasa Mbah Hasyim yg sangat luar biasa itu punya cucu bernama Gus Dur.
“Gus Dur selama jadi presiden itu tidak pernah ribet, negara saja tidak ribet, malah kita yang ribet.”contohnya tentang departemen penerangan,menurut gusdur;
“Departemen penerangan itu sudah bubarkan saja, mau diterangin apalagi wong sudah terang benderang begini.” masalah menteri juga beliau bertutur dengan sangat cerdas dan brilian;
“Menterinya yang ribet: Gus ini departemen, ada 50.000 karyawan dibalik departemen ini lalu yang ngurus siapa?”“‘Mosok aku?’ jawab gusdur;Hanya dua kata saja persoalan bangsa ini langsung beres.”

Ditulis kembali oleh : Amirudin Faisal
Admin Grup Sahabat Gus Dur

Selasa, 12 April 2016

Saya Ini Korban Pencitraan (Oleh : KH Ahmad Mustofa Bisri)

Saya Ini Korban Pencitraan 
Oleh : KH Ahmad Mustofa Bisri

1970-an, sekelompok anak muda NU intens berkonsolidasi. Bediskusi, bergerak, menulis, bicara di berbagai forum, membangun jaringan, merintis tapak menuju masa depan yang lebih baik bagi NU dan Indonesia. Dipimpin Gus Dur, Gus Mus termasuk salah seorang di antara mereka.
Publik pun lantas mengenal mereka sebagai “kelompok muda NU”, suara kaum muda, pemimpin-pemimpin muda. Atribut “muda” itu begitu kuat melekat pada citra diri mereka sehingga kehadiran mereka senantiasa “terasa muda”.
“Sekarang ini orang lupa kalau aku sudah tua. Dikiranya muda terus…” kata Gus Mus.
Pada mulanya Gus Dur mengajak Gus Mus ikut tampil membacakan puisi-puisi karya penyair-penyair Palestina dalam sebuah pentas solidaritas penyair-penyair Indonesia untuk Bangsa Palestina. Sejak saat itu, orang memandang Gus Mus sebagai penyair.
“Karena terlanjur dianggap penyair, terpaksa saya juga menulis puisi-puisi”, kata Gus Mus.
Kokohlah citra Gus Mus sebagai penyair, seniman, dan budayawan. Pentas-pentas baca puisi, seminar-seminar dan diskusi-diskusi ilmiah ala intelektual kota dilalapnya.

Orang menjadi lupa-lupa ingat bahwa Gus Mus terlahir sebagai santri kendil. Hidup sebagai santri kendil, menyikapi hidup dengan naluri santri kendil, menjalaninya ala santri kendil. Saya pernah dimarahi habis-habisan gara-gara membuat proposal permintaan bantuan dana kepada Pemerintah untuk bangunan pondok.
“Hati-hati mencari uang!” katanya, “Abahmu dan embahmu tidak pernah mementingkan bangunan yang bagus-bagus. Apa pun adanya, yang penting barokah!”
Ketika anak sulungnya, Ienas Tsuroyya, mencapai umur matang untuk berumah tangga, Sang Ayah menikahkannya, persis secara santri kendil. Yakni dengan mengatur perjodohan di antara sesama kyai santri kendil. Hingga tercapailah kata sepakat dengan Kyai Abdullah Rifa’i dari desa Cebolek, Pati. Ienas pun, dengan kesadaran seorang puteri santri kendil, menurut saja dinikahkan dengan Ulil Abshar Abdalla yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

Si Mantu ndilalah orang terkenal juga. Pemikir muda yang kontroversial. Pendiri Jaringan Islam Liberal. Rajin bikin kaget kalangan pesantren tradisional. Reputasi Ulil menanjak sedemikian rupa sampai-sampai berpengaruh terhadap citra mertuanya. Hanya karena bermenantukan Ulil si pendiri JIL, segelintir manusia pendek akal pun menisbatkan Gus Mus pula kepada JIL. Apalagi Gus Mus memilih cara dakwah penuh kelembutan dan mengecam orang-orang yang gemar bawa pentungan sambil teriak takbir.
Orang lupa bahwa Gus Mus memperoleh predikat kyai karena pengetahuan dan kesetiaannya kepada syari’at. Macam-macam label yang ditempelkan orang kepada pribadi Gus Mus, tak lebih dari hiasan remeh-temeh dibanding intensitasnya menggeluti fiqih. Kumpulan tulisannya dari rubrik-rubrik tanya-jawab di sejumlah media telah diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Fikih Keseharian Gus Mus”. Bersama Kyai Sahal Mahfudh, Gus Mus juga menerjemahkan sebuah buku babon berjudul “Ensiklopedia Fikih”.

Sebagai faqiih, Gus Mus bahkan tergolong kolot. Seumur hidup tak pernah ia mau menyentuh kepiting. Bukannya Gus Mus tak tahu bahwa menurut kyai-kyai Kajen (Pati) kepiting itu halal. Gus Mus memilih meneguhi pendapat kakeknya, Kyai Kholil Harun, yang mengharamkan kepiting.
Asy Syaikh As Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al Maliki Al Hasani pernah menyatakan, betapa beliau mengagumi pemikiran-pemikiran fiqih Iman Syafi’i.
“Seandainya tidak turun-temurun keluargaku mengikuti Madzhab Maliki, niscaya aku menjadi Syafi’iy dengan senang hati”, demikian Sayyid Muhammad berkata.

Beliau memegangi Madzhab Maliki sebagai amanat leluhur. Persis dengan itu, Gus Mus memegangi amanat fiqih kakeknya.
Kini Gus Mus sudah 70 tahun. Sebagai Pejabat Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, ia masih harus mengerahkan sisa-sisa tenaga bagi khidmah kepada 100 juta warga dibawah tanggung jawabnya. Itu juga soal biasa. Semua kyai NU ya begitu itu. Sampai tiba saatnya Tuhan mengirim pembawa kabar gembira.

Athaalallaahu baqaa-ahu wa hafidhahu.

Oleh : Ayah Debay
Profile : https://www.facebook.com/groups/1610216669215200/permalink/1752849618285237/
Anggota Grup Sahabat Gus Dur

Piagam Madinah, Upaya Merajut Harmoni Kelompok Agama yang Berbeda (Oleh : Amirudin Faisal)

Piagam Madinah
Upaya Merajut Harmoni Kelompok Agama yang Berbeda
Oleh : Amirudin Faisal

Dalam sejarahnya, salah satu bentuk kesepakatan yang melibatkan kelompok Muslim dan non-Muslim yang cukup fenomenal adalah Piagam Madinah (tahun 622 atau 2 tahun sebelum terjadinya perang Badar). Naskah asli dokumen ini menyebut dirinya kitab (tulisan) sahifah (dokumen) dan sering dirujuk sebagau sebuah ’piagam’ dan ’konstitusi’.
Piagam Madinah berisi pernyataan bahwa warga Muslim dan Non Muslim Yatsrib (Madinah) adalah satu bangsa, dan orang Yahudi dan Kristen, serta non-Muslim lainnya akan dilindungi dari segala bentuk penistaan dan gangguan. Ada penekanan tentang kesamaan hak antara Muslim dengan non-Muslim sebagai sesama warga negara. Dengan demikian, jaringan relasional Islam telah meluas kepada non-Muslim yang dirangkum dalam semangat tauhid yang meletakkan semua pada tingkatan yang sama (Kazuo Shimogaki, 1993).
Ketika nabi hijrah ke Yatsrib, umat Yahudi, dan suku-suku Arab politeis adalah kelompok mayoritas yang hidup di sana. Kaum anshar (penolong) yang sering dikaitkan sebagai penduduk lokal Yatsrib penerima dan penolong nabi dan rombongannya merupakan kelompok dengan jumlah kecil yang mendiami Yatsrib. Dalam sesnsus yang dilakukan pada masa Nabi saja nampak kelompok Muslim jumlahnya sedikit dibanding non-Muslim. Dari 10.000 penduduk Madinah saat itu, umat Muslim hanya berjumlah 1.500 orang. Umat Yahudi berjumlah 4000 orang, dan sisanya adalah suku-suku Arab (Rizal Panggabean, 2009).
Dari gambaran sensus tersebut jelaslah bahwa nabi dan para pengikutnya merupakan minoritas penduduk Madinah, di tengah sistem kesukuan dan dinamika setelah perang saudara. Selain itu suku Quraisy yang ikut hijrah bersama nabi adalah orang-orang yang kurang mampu yang mengantungkan pertolongan dari penduduk asli Yatsrib. Belakangan hari, nabi berhasil membentuk ikatan persaudaraan antara pendatang yang Muslim dengan penduduk lokal Yatsrib yang multi suku dan agama/kepercayaan.
Dalam situasi seperti ini, mengapa kepemimpinan Muhammad diterima di Yatsrib?. Dua tahun sebelum hijrah, nabi sering dihubungi beberapa tokoh Yatsrib dari suku Aus dan Khazraj yang sudah lama dilanda perang saudara. Kelompok Yahudi yang pada waktu itu telah berada dalam lindungan suku-suku Arab juga mengalami perpecahan. Yatsrib benar-benar krisis, sehingga membutuhkan seorang tokoh untuk mempersatukan, yang bukan bukan dari kalangan lokal, melainkan orang luar yang berasal dari keluarga terhormat supaya dijadikan hakam atau arbitrator (pihak indepeneden yang ditunjuk untuk penyelesaian konflik/sengketa). Dan seorang hakam yang dimaksud ada pada sosok Muhammad yang saat itu sedang mencari sebuah tempat baginya dan para pengikutnya.
Kisah penyambutan penduduk Yatsrib, kaum anshar, kepada kaum muhajirin yang hijrah bersama Rasulullah SAW, menjadi tonggak awal dari berdirinya masyarakat Madani. Untuk membangun masyarakat ideal berlandaskan nilai-nilai ketauhidan, Muhammad kemudian mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah, kota peradaban.
Di kota ini pula, Muhammad berjihad untuk merekatkan persaudaraan antara kaum-kaum yang berbeda identitas kesukuan dan keagamaan. Salah satu bentuk ijtihad Muhammad tersebut tertuang dalam Piagam Madinah. Piagam yang terdiri dari 50 butir kesepakatan itu mampu mengakomodir berbagai kepentingan golongan, suku, agama, kelompok berbeda yang sama berdiam di Madinah.
Sebagai contoh isi Piagam Madinah yang menghormati agama dan suku lain adalah pada pasal 16 “Bahwa sesungguhnya kaum-bangsa Yahudi yang setia kepada (negara) kita, berhak mendapatkan bantuan dan perlindungan, tidak boleh dikurangi haknya dan tidak boleh diasingkan dari pergaulan umum”. Pasal ini mempertegas pembukaan piagam yang berbunyi “perjanjian ini dari Muhammad, seorang nabi, dilakukan diantara orang-orang beriman dan umat Islam dari kalangan Quraisy dan Yatsrib serta sispapaun yang mennyertai dan menyusul mereka dan berjuang bersama-sama mereka; bahwa mereka adalah satu umat, di luar golongan orang lain”. Maka salah satu aspek terpenting dalam piagam ini adalah perubahan status sosial dari pertalian darah (al-nasab) ke pertalian nilai (ummah).
Piagam Madinah menamakan pihak-pihak yang menyepakati sebagai ummah wahidah, umat yang satu yang terdiri suku Quraisy pengikut nabi yang ikut berhijrah, penduduk Madinah yang sudah masuk Islam, dan suku-suku Arab yang mengikuti mereka, bergabung dengan mereka dan berjuang bersama mereka. Suku-suku Arab yang politeis juga bagian dari ummah wahidah.
Suku-suku Arab menjadi salah satu pihak dalam piagam ini, dan terlebih istimewa, disebutkan secara khusus. Mereka adalah Banu Awf, Banu Sa’idah, Banu al-harith, banu Jusham, Banu al Najjar, Banu ’Amr bin ’Awf, Banu al Nabit, dan Banu al-Aws. Piagam ini melarang usaha balas dendam di kalangan yang menyepakati piagam ini, sebab salah satu tujuan ummah wahidah adalah mencegah sengketa internal berdarah. Jika terjadi pelanggaran, proses penyelesaiannya dengan musyawarah yang melibatkan Muhammad, tidak dengan jalur mekanisme kesukuan lama.
Piagam Madinah merupakan salah bukti yang sah tentang bagaimana petnujuk Al qur’an difungsikan dalam masyarakat plural di bawah pimpinan Nabi. Muhamad Hamidullah asal India menyebut piagam Madinah sebagai konstitusi tertulis pertama di dunia, jauh lebih dahulu dibanding Magna Catra. Sementara Munawir Sadzali menjadikan Piagam Madinah sebagai bukti bahwa nabi sendiri tidak menjadikan Islam sebagai dasar negara. Pandangan lain diutarakan Nardisyah Hosein yang menyebut Piagam Madinah sebagai potret konstitusi yang demokratis. Dan yang lebih uniknya lagi dalam piagam tersebut tidak ada terma ’negara Islam’.
Namun beberapa kalangan juga melayangkan pikiran kritisnya dengan melihat Piagam Madinah belum sepenuhnya mencerminkan prinsip-prinsip pluralisme, karena konstruksi umat yang dibayangkan masih cenderung mayoritas. Meskipun unsur-unsur yang membentuk civil society telah terbentuk di Madinah seperti prinsip keadilan, persamaan dan musyawarah, namun pengharagaan atas kewarganegaraan (citizenship) belum cukup terlihat. Hal ini disebabkan karena proses pengambilan kebijakan masih didasarkan pada otoritas tunggal nabi yang memiliki keabsahan spiritual dalam menafsir keabsahan atas nama Tuhan (Aritonang,
Namun yang perlu digarisbawahi adalah pada sebuah upaya membangun tata nilai kehidupan yang setara, yang tidak memihak dan menghormati pluralitas adalah sebuah fakta yang cukup menginspirasi dan perlu diadopsi dalam kancah kehidupan beragama dan sosial kita dewasa ini.

Oleh : Amirudin Faisal
Profile : https://www.facebook.com/amirudin.faisal.3/posts/136566893409289
Admin Grup Sahabat Gus Dur